Tuesday, January 13, 2026
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, Kota Bandung ini berlangsung dari tanggal 10–31 Januari 2026 serta dibuka oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Sabtu sore (10/1/2026). Acara ini dimeriahkan oleh Tim Kesenian ISBI Bandung.
Pameran ini menarik, teman-teman ini rata-rata sebagian besar memilih medium seni lukis sebagai keutamaan ungkapannya. Tapi yang menarik lagi justru keseragamannya, mereka seperti “sepakat” menggunakan medium seni lukis ini untuk membicarakan satu hal tertentu. Kemudian yang terjadi adalah mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda. Ada yang memulainya dengan keintimannya dengan pohon itu sendiri, entah dimulai dengan pengalamannya, mungkin pernah menanam pohon, pernah dekat dengan pohon, atau pernah kehilangan pohon, dan sebagainya.
![]() |
| Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut Kota Bandung sebagai kota terpadat oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. (Foto: Asep GP) |
“Saya kira ini yang menarik dari keseragaman mediumnya. Ya kita tahu mediumnya adalah seni lukis, tapi tawaran perspektifnya yang berbeda, dan ini yang saya kira menarik. Jadi kontribusi terbesar pelukis adalah menyumbangkan cara melihat. Karena apa yang diperjuangkannya, apa yang mereka pertarungkan di dalam bidang dua dimensi sebenarnya hampir sama, yang membedakannya adalah cara mereka memasuki bidang datarnya,” demikian dikatakan Kurator Pameran, Diyanto, kepada wartawan.
Sementara Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam sambutannya mengatakan, Bandung adalah kota yang terbangun oleh lanskap, dan lanskap itulah yang membuat orang jadi swarming ke Kota Bandung. Swarming untuk berkarya.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Swarming itu berhimpun, berkumpul, atau sebuah perilaku komunal dari masyarakat yang berkumpul dan bergerak bersama-sama atas sebuah daya tarik tertentu. Daya tarik itu bisa ekonomi, bisa budaya, dan budayanya itu bisa berupa pendidikan, bisa juga sebuah kegiatan berkarya.
Itu sebabnya, kata Wali Kota, perguruan tinggi pertama di Indonesia adanya di Kota Bandung (ITB/Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920). Perguruan tinggi teknologi, tapi pada saat bersamaan didirikan juga Fakultas Seni Rupa terbaik di Indonesia (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Ya di Kota Bandunglah disadarkan adanya gabungan teknologi dengan kesenian. Karena kalau berteknologi tanpa berkesenian, kita kan menjadi mesin-mesin tanpa perasaan. Begitu juga sebaliknya, ketika berkesenian tanpa dilengkapi dengan teknologi, maka kita akan menjadi manusia-manusia purba yang akan tertinggal di dalam gua,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti tema pameran “Pohon untuk Kehidupan” yang dipaparkan Kurator Pameran, Diyanto. Menurutnya memang benar pohon adalah salah satu sumber kehidupan kita, termasuk di Kota Bandung, dan Farhan merasa bangga karena bisa disaksikan oleh semua orang bahwa Kota Bandung adalah salah satu kota yang densitas pohon perdananya terbanyak di Indonesia.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Tapi salah satu tantangan terbesar secara teknokratis Kota Bandung ini, 10 tahun yang lalu hanya punya 12,8% RTH (Ruang Terbuka Hijau). “Nah, sekarang kami mengejar supaya bisa mencapai 20%. Saya sedang mengajukan ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pak boleh enggak RTH-nya itu bukan dihitung dari koefisien luas tanah, tetapi dihitung dari koefisien banyaknya pepohonan di Kota Bandung. Karena dengan begitu kita bisa berharap RTH Kota Bandung ini bukan sekadar sebuah hamparan, tetapi pohon-pohon yang hadir di antara ruang-ruang kehidupan kita, baik secara fisik maupun secara harapan,” kata Farhan.
Akhirnya Wali Kota berterima kasih kepada Ketua Umum ASPEN, Abang Kembang Sepatu, Kurator Diyanto, dan seluruh peserta pameran.
![]() |
| Lukisan "Generasi Yang Hilang" karya Abang Kembang Sepatu, kenang-kenangan buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Saya sangat beruntung menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya di luar, lalu balik lagi memimpin Bandung dan mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat bukan oleh manusia, tapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. Bapak/Ibu sekalian, terima kasih telah menjadi pemantik kehidupan dan pemantik jiwa-jiwa yang selalu gelisah di Kota Bandung. Dan katanya Bandung kalah oleh Artjog–Yogyakarta, karena kegiatan seninya lebih hebat di sana, tapi saya yakin siapa pun yang ingin belajar dan mengerti apa itu seni, harus menginjakkan kakinya dulu di Kota Bandung,” pungkas Pak Wali, disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Sementara itu Ketua ASPEN Bandung Raya, Ir. Muhammad Bakrie Baharuddin, berharap pameran ini dapat menghadirkan pengalaman visual yang inspiratif serta mempererat silaturahmi di antara pecinta seni.
Setelah itu, pengguntingan pita dilakukan oleh Wali Kota Bandung dan para peserta pameran, beserta para tamu undangan memasuki ruangan Thee Huis Gallery, lalu semuanya asyik mengapresiasi berbagai karya lukisan bertajuk “Pohon untuk Kehidupan”. Tampak juga Abang Kembang Sepatu (Jakarta) memberikan hadiah lukisan karyanya “Generasi yang Hilang” kepada Wali Kota Bandung dan langsung diterima dengan gembira, akan dipajang di tempat kerja, katanya.
Di antara sekian lukisan terlihat ada sebuah karya yang menggambarkan kebakaran hutan yang sedang berusaha dipadamkan oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Warna merah, jingga (oranye), dan kuning terlihat mendominasi, kilatan bara api itu terlihat sungguh ngeri.
![]() |
| Kurator Diyanto di depan "Ruhay" karya Supriatna (Foto: Asep GP) |
Ya, inilah lukisan “Ruhay” (bara api dalam bahasa Sunda) karya Dr. Supriatna. Menurut Diyanto, karya Supriatna ini menawarkan pada kita satu sudut pandang yang lain. Sementara para pelukis yang lain melihat pohon hubungannya langsung dengan konteks lingkungan, terkait apa yang kita duga sebagai ancaman yang bersifat hidrometeorologi, sementara karya Supriatna memberikan sudut yang lain, misalnya lebih melihatnya dari perspektif antropogenik. Jadi berbagai hal terkait lingkungan sebenarnya diakibatkan oleh aktivitas manusia, entah penebangan pohon atau musibah kebakaran hutan.
Karya ini, kata Diyanto, menjadi menarik di antara yang lain karena tawaran perspektifnya yang berbeda, yaitu konteksnya dekat dengan kejadian.
“Ini lukisan kembali mengingatkan bahwa kita harus menyadari, selain bencana yang sifatnya hidrometeorologi, tentu kita harus ingat ada ancaman lain yang sifatnya antropogenik seperti ini, berbagai hal yang sebenarnya nanti memperlihatkan kerakusan manusia terhadap alam, dan sebagainya. Ini yang jadi menarik,” tandasnya.
Supriatna sendiri ketika ditanya wartawan mengatakan, ia sengaja mengambil judul lukisannya dari bahasa Sunda, “Ruhay”, titik kulminasi api yang sudah menjadi bara. Jadi kengerian dari bahaya api itu sendiri yang ia ekspose.
Kengerian yang diwakili warna api yang dominan merah–kuning–jingga. Sementara pohonnya sudah mulai berubah jadi arang kehitaman. Dalam lukisan ini ada juga manusia (petugas pemadam) yang berusaha memadamkan kebakaran hutan tersebut dengan segala risiko yang mengancam jiwanya. Kata Kang Supri, itu hanya simbol, gambaran di permukaannya saja, sementara di dalam hutan tersebut banyak penghuni lain yang terancam nyawanya.
![]() |
| Supriatna: kalau alam rusak, akan menjadi bencana mengerikan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Foto: Asep GP) |
“Jadi saya gambarkan secara dinamis, seolah-olah sedang terjadi, ada goresan-goresan liar jilatan api yang tidak bisa diprediksi ke mana arahnya. Kengerian itu mengingatkan bagaimana manusia harus menjaga alam. Ini saya sampaikan dengan goresan-goresan dinamis dengan warna mewakili api dan pohon serta ada lelehan, ini menggambarkan kengerian,” jelas Supriatna.
Ketika ditanya apakah lukisan ini kritik terhadap bencana alam yang terjadi di Sumatra baru-baru ini, kata Kang Supri, lukisannya dibuat pada tahun 2025, jauh sebelum kejadian bencana alam Sumatra. Tapi katanya esensinya sama, ada pesan yang ingin disampaikan, kalau alam rusak, akibat buruknya tidak hanya akan dirasakan manusia saja, tapi hewan, tumbuhan, dan alam pun akan rusak. Itu edukatifnya.
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., ini adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung.
Tapi kegemarannya melukis tak pernah padam, tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Tapi karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya, walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
ASPEN Gelar Pameran Lukisan “Pohon untuk Kehidupan” di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, ...
Friday, January 9, 2026
Acara berlangsung di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung, Jalan Peta No. 241, Kota Bandung, (7/1/2026).
Pendidikan yang diselenggarakan di LPP Ariyanti menitikberatkan pada pendidikan keterampilan yang berbasis kompetensi. Pendidikan keterampilan diyakini mampu menjadi solusi yang tepat dalam mengurangi angka pengangguran. Sinergi dengan dunia kerja melalui program link and match, LPP Ariyanti telah menjalin kerja sama dengan institusi, dunia usaha, dan dunia industri dalam dan luar negeri. Kerja sama terjalin dalam penyusunan kurikulum, praktik kerja lapangan, penempatan kerja, dan memperluas networking dalam berwirausaha.
Dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan serta pendidikan karakter, alumni LPP Ariyanti diharapkan dapat menjadi seorang profesional yang memiliki kecerdasan intelektual serta memiliki budi pekerti yang luhur sesuai dengan tema wisuda kali ini, yakni “LPP Ariyanti Senantiasa Membangun Kompetensi, Menciptakan Prestasi, Siap Menginspirasi.” Tema ini dipilih sebagai cerminan dari komitmen LPP Ariyanti dalam menjawab tantangan dunia kerja dan masyarakat yang terus berkembang.
![]() |
| Direktur LPP Ariyanti Ishviastuti, S.E. (Foto Asep GP) |
Hal tersebut menegaskan bahwa lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis yang mumpuni, tetapi juga mampu mengaktualisasikan diri melalui prestasi nyata serta memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Dengan semangat tersebut, alumni LPP Ariyanti diharapkan siap menjadi pribadi yang adaptif, berdaya saing, dan mampu menginspirasi orang lain melalui karya, sikap, dan kontribusi yang bermakna di dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.
Demikian dikatakan Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti Oskar, S.E. Dalam sambutannya, Bu Direktur juga mengatakan, “Tahun akademik 2024/2025 adalah tahun di mana kami bekerja keras untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, berprestasi, dan menginspirasi. Kami mempersiapkan dengan kurikulum yang disusun sesuai dengan pencapaian pembelajaran. Kami menitikberatkan pada pendidikan dan pelatihan keterampilan yang berbasis kompetensi kerja dan kemampuan berwirausaha. Kurikulum yang kami susun senantiasa mengacu pada kesesuaian dan kesepadanan dengan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri serta nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam hal karakter positif. Tujuan pencapaian pembelajaran LPP Ariyanti yaitu menghasilkan SDM yang berkompeten, berkarakter positif, berdaya juang, berdaya saing, menguasai teknologi agar siap kerja atau berwirausaha. Harapan kami, lulusan LPP Ariyanti menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan mampu menyelesaikan tugas dengan tepat, cepat, serta bertanggung jawab,” paparnya.
Ishvi juga mengatakan, kelebihan LPP Ariyanti, alumninya ada yang menempati posisi tinggi di berbagai perusahaan bahkan sudah tersebar hingga ke luar negeri. Hingga semua itu menjadi motivasi buat adik-adik angkatannya, dan yang paling menggembirakan, para alumni Ariyanti membuat semacam garansi untuk mempersilakan para lulusan baru untuk bekerja di perusahaannya.
Selain sambutan dari Direktur LPP Ariyanti, Presiden Direktur LPP Ariyanti, Ibu Hj. Dewi Irawati, MBA., mengatakan, lebih dari sekadar membangun kompetensi, LPP Ariyanti menjadikan pencapaian prestasi (achievement-oriented development) sebagai prioritas utama. Prestasi bagi kami bukan hanya penghargaan formal, tetapi cerminan kemampuan lulusan dalam menunjukkan performa unggul, menghadirkan solusi inovatif, dan menciptakan nilai tambah (value creation) di dunia kerja maupun kewirausahaan. Namun, lulusan yang ideal tidak hanya kompeten dan berprestasi, tetapi juga mampu menjadi insan yang menginspirasi (inspiring individuals) melalui integritas, etika kerja, karakter yang matang, dan kepedulian sosial.
![]() |
| Pembina Yayasan Pendidikan Ariyanti,Ir. Adriana Budhiparama Pong Permadi. MBA, bersama Direktur LPP Ariyanti ketika diwawancarai wartawan (Foto Asep GP) |
“Karena itu, dengan menggabungkan tiga aspek kompetensi, prestasi, dan inspirasi, kami percaya lulusan LPP Ariyanti siap menjadi generasi yang unggul, berpengaruh, dan relevan di tengah dinamika perubahan dunia,” demikian kata Dewi Irawati.
Sementara itu, Pembina Yayasan Pendidikan Ariyanti, Ir. Adriana Budhiparama Pong Permadi, MBA, yang hadir saat itu selain mengucapkan selamat dan sukses, mengingatkan kepada para lulusan agar menjaga baik nama almamater, punya karakter yang baik, dan komitmen dalam pekerjaan menjadi tenaga profesional yang kompeten dan daya juang yang tinggi sehingga mencapai kesuksesan.
“Di tengah persaingan global, kita harus punya pikiran/pengetahuan yang luas, banyak belajar, dan terus belajar seumur hidup, karena pendidikan itu adalah bekal bagi perjuangan hidup untuk menuju global,” tegasnya.
Termasuk dalam menghadapi 2045 (Indonesia Emas), kata Adriana, para lulusan LPP Ariyanti sudah dibekali dengan pendidikan yang relevan sesuai kebutuhan zaman, hingga siap bekerja dengan baik.
“Dan untuk itu kami akan terus menghasilkan lulusan dalam berbagai macam jurusan vokasi dari program khusus, program singkat, sampai dengan belajar satu tahun, dan semua itu akan terus ditingkatkan dengan program-program kami yang banyak sehingga anak-anak bisa belajar untuk masa depannya,” pungkasnya.
Kualitas pendidikan di Ariyanti dirasakan oleh Astiwi Triwidiya Putri (19), wisudawan/lulusan terbaik dari Kepulauan Bangka Belitung yang mengambil Program 1 Tahun Jurusan Tata Kecantikan Kulit. Ia mengatakan, pelajaran di Ariyanti sangat mendukung bakat otodidaknya yang juga di bidang kecantikan kulit. Astiwi adalah pemilik Astri Wedding di Jalan Desa Nangka RT 05 Bangka Belitung. Ia disuruh ibunya yang orang Sunda untuk belajar ke Bandung, di LPP Ariyanti, dan terbukti anak kos yang mandiri ini sekarang menjadi siswa teladan dan siap mengembangkan perusahaannya di bidang kecantikan di kampung halamannya.
Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Bidang Pelatihan dan Produktivitas Kerja Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Ibu Rina Indrisari Nugraha, S.IP., M.A.P.; serta Kepala Bidang PP PAUD dan Dikmas Kota Bandung, Bapak Drs. Abdul Gaos, M.Pd. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para tamu undangan dari relasi perusahaan.
**
LPP Ariyanti menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kemandirian peserta didik. Program tersebut meliputi Pendidikan dan Pelatihan Program Satu Tahun Siap Kerja dengan jurusan Administrasi Perkantoran, Komputer Akuntansi, Perhotelan, Tata Boga, serta Tours and Travel. Selain itu, tersedia pula Program Kewanitaan yang mencakup Tata Kecantikan Rambut (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Kecantikan Kulit (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Rias Pengantin, serta Tata Busana tingkat Basic dan Advance.
![]() |
| Astiwi Triwidiya Putri, Wisudawan Terbaik LPP Ariyanti 2026 (Foto Asep GP |
LPP Ariyanti juga mengembangkan program pelatihan berbasis kluster kompetensi seperti Food and Beverage Service, Baker, Cookery, dan Patisserie, disertai Program Pelatihan Produktivitas Tenaga Kerja, Program Pelatihan Kewirausahaan, serta Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan dunia industri dan organisasi, diselenggarakan pula pelatihan in house training yang meliputi Service Excellence, Leadership, Pengembangan Kepribadian, Etika dan Citra Diri Positif, MC Protokoler, Public Speaking, Komunikasi, serta Grooming, termasuk program keterampilan intensif dan privat yang berfokus pada penguatan hard skills dan soft skills.
Pada Tahun Akademik 2024/2025, tercatat sebanyak 1.641 peserta berhasil menuntaskan pendidikan dan pelatihan, dengan peserta wisuda pada hari ini berasal dari Program Satu Tahun Siap Kerja dan Program Kewanitaan. Kualitas alumni Ariyanti tak perlu dipertanyakan lagi, dengan jumlah lulusan LPP Ariyanti yang lebih dari 95.000 orang yang tersebar di berbagai perusahaan besar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Mereka diterima di dunia kerja di antaranya sebagai Sekretaris Direksi, General Manager, Executive Chef, Hotel Manager, Cinema Manager, Senior Airport Service Agent, Pastry Coordinator, Personalia, dan masih banyak posisi lainnya. Dunia usaha dan industri yang menerima alumni Ariyanti antara lain PT KAI, UPI, ITB, RSHS, The Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, Mercure Setiabudhi Bandung Hotel, The Trans Luxury Hotel Bandung, Holiday Inn Hotel Batam, Arion Swiss-Belhotel Bandung, PT Graha Layar Prima (CGV Cinemas) Bandung, Bank BRI, Bank BCA, sedangkan di luar negeri antara lain di Intercontinental Hotel Dubai UEA, International Hotel Dubai, The Monarch Hotel Dubai, Hotel Rehab Al Misk Madinah Arab Saudi, Raffles Hotel Singapura, COSL Drilling Pan Pacific–Singapore, dan kapal pesiar seperti Holland America Line (HAL), Carnival, Thomson Dream, MSC Cruises, serta masih banyak lagi di dalam dan luar negeri.
Lulusan LPP Ariyanti juga diberikan wawasan entrepreneurship, diharapkan alumni LPP Ariyanti tidak hanya mampu bersaing mencari kerja tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, minimal untuk diri sendiri dan lingkungannya. Ada beberapa alumni Ariyanti yang sukses berwirausaha seperti membuka salon, butik, pastry bakery, dan lain sebagainya. Sebagai contoh pemilik Roemah Snack Mekarsari, pemilik Narda Catering, pemilik Klinik Kecantikan G&G Skin Care, House of Raddysa Salon, Spa, Butik & Wedding Gallery Cimahi, Van’s Salon Wedding Gallery & Spa, Anis Salon, Charoline Salon, Uki Salon, serta masih banyak lagi salon-salon di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. (Asep GP)***
Wisuda Ke-43 dan Pelepasan Calon Tenaga Kerja LPP Ariyanti Bandung : Lulusannya Dibekali Pendidikan Sesuai Kebutuhan Zaman
Acara berlangsung di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung, Jalan Peta No. 241, Kota Bandung, (7/1/2026). Menghadapi era ...
Sunday, December 28, 2025
![]() |
| Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. (Foto: Asep GP) |
Bandung — Akhir tahun selalu menjadi momen penting untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, sekaligus menata harapan ke depan. Dalam semangat itulah Jala Bhumi Kultura (JBK) bersama DC Corner menghadirkan sebuah perhelatan seni bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025 + Harapan Tahun 2026”. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu sore, (27/12/2025), di DC Corner, Jl. Ranggamalela No. 11, Dago, Kota Bandung.
Kata panitia, acara ini dirancang sebagai ruang temu antara seni, pengalaman hidup, dan kesadaran sosial. Bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan sebuah upaya menghadirkan seni sebagai medium refleksi kolektif atas berbagai peristiwa yang mewarnai perjalanan tahun 2025—baik pada level personal, sosial, maupun kultural—serta sebagai penanda harapan dan sikap kritis menyongsong tahun 2026.
Melalui tema refleksi akhir tahun, para penggagas acara ingin mengajak publik untuk kembali memberi makna pada waktu, ingatan, dan pengalaman. Seni dipilih sebagai bahasa utama karena ia memiliki daya ungkap yang jujur, lentur, dan mampu menembus batas-batas rasionalitas. Dalam konteks ini, panggung menjadi ruang dialog, sementara tubuh, suara, dan gerak menjadi medium penyampai pesan.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
![]() |
| Rektor ISBI, Retno Dwimarwati: Sebagai manusia kita harus taat pada Tuhan, menghormati sesama manusia dan alam, agar terhindar dari segala bencana. (Foto: Asep GP) |
Ada lagi, seni pantomim dibawakan oleh ISMIME & Jos Dumber-Dumbers, yang mengekspresikan realitas kehidupan melalui bahasa tubuh tanpa kata. Dengan gestur, mimik, dan simbol-simbol visual, serta diringi musik jaipong Sunda, pantomim ini ingin menyampaikan kritik sosial secara lugas namun tetap puitis, mengajak penonton membaca ulang berbagai fenomena yang sering luput dari perhatian.
Sementara itu, Aendra Medita menyampaikan orasi media, yang merefleksikan peran media dan media sosial di Indonesia sepanjang tahun 2025. Orasi ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi, perubahan pola konsumsi media, serta tantangan etika dan literasi digital. Melalui sudut pandang kritis, orasi ini mengajak audiens untuk lebih sadar, bijak, dan bertanggung jawab dalam memaknai informasi di era digital.
Selain itu, dipertunjukkan juga sajian Tari 50+ yang dibawakan oleh Enung, Lina, Indri, dan Risma. Pertunjukan ini menjadi pernyataan bahwa seni tidak mengenal batas usia. Pengalaman hidup, ketekunan, dan kedewasaan justru menjadi kekuatan utama dalam menafsirkan gerak. Tari 50+ tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga pesan tentang keberlanjutan, ketahanan, dan keberanian untuk tetap berkarya di setiap fase kehidupan.
Di sela-sela sajian seni, tampil juga ke depan beberapa orang tokoh aktivis dan akademisi, di antaranya Paskah Irianto dan Rektor ISBI Retno Dwimarwati.
Paskah Irianto mengajak berpikir keras mencari solusi agar bangsa ini jadi maju tidak dimiskinkan. Bagaimana supaya bangsa Indonesia sejahtera ekonominya dan rakyatnya maju. Aktivis hukum dan kasus tanah ini pun menyoroti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang harus ditata ulang, agar anak bangsa mendapat gizi yang benar serta MBG tidak jadi arena korupsi dan pemborosan anggaran. Selain itu, alumni Sastra Rusia Unpad ini juga menyoroti bencana alam Sumatera yang menurutnya dibuat oleh ulah manusia. Dan Paskah mengingatkan, “Di dunia ini tidak ada yang gratis, kalau berbuat baik kita dibayar Tuhan dengan kebaikan begitu juga sebaliknya, kalau berbuat jahat dan lalim dibayar dengan keburukan,” tegasnya.
Retno pun sama menyoroti bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini di Pulau Sumatera. Jadi menurutnya, Refleksi 2025 ini merupakan cara berpikir ulang bagi kita bahwa dengan adanya bencana ini, kita harus lebih mencintai alam. Bagaimana kita sebagai manusia taat kepada Tuhan dan menghormati sesama manusia, juga menghormati alam itu jadi penting, karena bagaimanapun apa yang diberikan Tuhan melalui alam ini adalah sebuah berkah.
Tapi ketika kita tidak memelihara alam dengan baik akhirnya menjadikan bencana. Jadi sebenarnya menurut Retno, bencana ini bukan dari Tuhan tapi kesalahan manusia. Hal inilah yang harus dijadikan resolusi di 2026 untuk kita berpikir kembali mencintai alam, “Karena leluhur kita selalu menganggap bahwa alam adalah manifestasi dari Tuhan, jadi perwujudan Tuhan itu ada di alam. Jadi kita harus benar-benar menghormati alam, dan kebudayaan Sunda mengajarkan bahwa kita harus mencintai alam, karena manusia, alam, dan Tuhan itu tidak terpisahkan,” tandasnya.
![]() |
| Paskah Irianto, Bagaimana caranya agar negara maju dan rakyat tidak dimiskinkan (Foto: Asep GP) |
“Jadi ketika kita melihat alam itu adalah bagian dari kita, semua makhluk itu adalah bagian dari kita, kita harus berusaha saling menghormati dan menghargai antara manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, semuanya harus satu kesatuan,” pungkasnya.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Secara keseluruhan, rangkaian sajian ini dihadirkan sebagai mozaik refleksi: tentang manusia, masyarakat, media, tubuh, dan waktu. Setiap penampil membawa perspektifnya masing-masing, namun bertemu dalam satu semangat yang sama—menjadikan seni sebagai ruang berpikir, merasakan, dan berbagi makna.
Acara ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan budaya yang inklusif, lintas generasi, dan berakar pada kesadaran sosial. DC Corner dipilih sebagai lokasi karena komitmennya sebagai ruang alternatif bagi dialog kreatif dan ekspresi seni di Bandung.
“Dengan menghadirkan seni sebagai cermin dan penanda zaman, acara ini diharapkan menjadi penutup tahun yang bermakna sekaligus pembuka langkah menuju tahun 2026 dengan kesadaran, empati, dan optimisme baru,” demikian disampaikan panitia kepada wartawan. (Asep GP)***
Jala Bumi Kultura & DC Corner Gelar “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”: Seni sebagai Ruang Ingatan, Kritik, dan Optimisme
Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. ...
Thursday, December 25, 2025
Penanganan masalah sampah di perkotaan, termasuk Bandung, sangat rumit dan memerlukan solusi sistemik dari hulu ke hilir, melibatkan pemerintah serta partisipasi aktif masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan mengurangi timbunan sampah dari sumbernya.
Makanya, Pemkot Bandung terus berusaha mencari solusi agar sampah di Kota Bandung tidak menumpuk dan menimbulkan bau busuk, menjadi bibit penyakit, serta merusak keindahan kota, bahkan sebaliknya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Dan usaha itu memang tidak mengkhianati hasil. Upaya penanganan sampah di Kota Bandung mulai menunjukkan hasil tatkala Pemkot Bandung menggandeng CV Prosignal Karya Lestari untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos ramah lingkungan. Hasilnya tidak main-main, per harinya paling sedikit 14 ton pupuk kompos bisa diproduksi serta berpeluang bernilai ekonomi.
Dan hal itu terbukti ketika CV Prosignal Karya Lestari mengantarkan 2 ton pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik untuk Diskominfo Kota Bandung dan ke Rumah Dinas Wali Kota Bandung (Pendopo Kota Bandung), Selasa (23/12/2026).
"Alhamdulillah, dengan adanya kerja sama antara Pemkot Bandung (Dinas Lingkungan Hidup) dengan pengelola Pasar Gedebage dan Prosignal Karya Lestari, pengolahan sampah organik di Pasar Induk Gedebage sudah sangat baik dan akan optimal karena dalam sehari bisa mengolah 27 ton sampah," demikian kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Kata Farhan, pupuk kompos ini akan segera dimanfaatkan untuk tanaman hias dan program urban farming Buruan SAE. Maka ia pun memerintahkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Pertamanan Kota Bandung (DPKP) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung (DKPP) untuk segera memanfaatkannya.
Selain itu, Farhan juga berencana memasukkan pupuk kompos ini menjadi salah satu mata rantai ekonomi sirkular dalam program pengolahan sampah skala Rukun Warga.
"Kita akan menggabungkan tiga program yang sudah berjalan, yaitu pengolahan sampah di RW, urban farming level RW, dan operasi dapur sehat di level RW. Kompos akan digunakan oleh urban farming, sayur, buah, ikan, hasil dari urban farming akan dikonsumsi dapur sehat, maka jadinya sirkular," katanya.
Sementara itu, Direktur Utama CV Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, berharap dinas-dinas lain yang membutuhkan pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik menggunakan biodigester ini dapat mengambilnya secara gratis di Pasar Induk Gedebage, Bandung.
Sebagaimana kita ketahui, biodigester merupakan solusi pengolahan limbah yang ramah lingkungan sekaligus dapat menghasilkan energi alternatif yang bersih, yaitu dengan cara mengolah sampah menggunakan tangki atau wadah kedap udara, tempat organisme menguraikan bahan organik atau sampah dapur, kotoran hewan, limbah pertanian, dan sejenisnya tanpa oksigen, yang nantinya menghasilkan biogas serta pupuk organik cair atau padat.
Saat ini, kata Aldi, CV Prosignal tengah memanen pupuk kompos hasil olahannya, hingga mencapai 2.000 ton yang menumpuk di gudangnya.
"Kami dalam sehari bisa memproduksi pupuk kompos minimal 14 ton dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, perkebunan, penghijauan, ataupun untuk memperbaiki unsur hara tanah. Sayangnya, sejauh ini baru sedikit dimanfaatkan oleh petani dari Ciwidey," pungkasnya. (Rls/ Asep GP.)*** Tatarjabar.com December 25, 2025 CB Blogger Indonesia
Pemkot Bandung Gandeng CV Prosignal Karya Lestari Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos
Ket. Foto: Wali Kota Bandung, M. Farhan (berbaju putih), bersama Direktur Utama Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah (berbaju hitam), d...
Saturday, December 20, 2025
![]() |
| Deklarasi dibacakan oleh Ketua PWNU Jabar, KH Juhadi Muhammad. Dihadiri 27 PCNU se-Jabar. (Foto istimewa) |
BANDUNG, 20 Desember 2025 — Pernyataan sikap tersebut dibacakan langsung oleh Ketua PWNU Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad, dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan 27 PCNU se-Jawa Barat, di Bandung, Jumat (20/12/2025).
Dalam pernyataan tersebut, PWNU dan PCNU se-Jawa Barat menegaskan jati diri NU sebagai jam’iyah yang lahir dari tradisi pesantren. Oleh karena itu, setiap dinamika organisasi harus tetap menjunjung tinggi adab jam’iyah dengan mendengarkan serta menghormati nasihat para masyayikh NU dan kiai sepuh.
Selain itu, PWNU Jabar dan PCNU se-Jawa Barat menyerukan pentingnya islah atau rekonsiliasi demi menjaga persatuan, ukhuwah an-nahdliyah, serta marwah organisasi. Mereka juga menegaskan tidak ingin PWNU maupun PCNU dilibatkan dalam konflik internal yang terjadi di tingkat PBNU.
Dalam sikapnya, PWNU dan PCNU se-Jawa Barat turut menegaskan legitimasi kepemimpinan PBNU hasil muktamar, dengan menempatkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.
![]() |
| (Foto istimewa) |
Sebagai jalan keluar yang konstitusional dan bermartabat, PWNU Jabar dan PCNU se-Jawa Barat mendorong penyelenggaraan Muktamar NU sebagai solusi terbaik untuk mengakhiri polemik serta menjaga soliditas jam’iyah. Muktamar tersebut diharapkan dipimpin langsung oleh mandatari muktamar, yakni Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
“Pernyataan sikap ini disampaikan demi menjaga keutuhan NU sebagai jam’iyah pembawa rahmat bagi seluruh alam,” demikian dalam deklarasi tersebut.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh dinamika di tubuh NU dapat diselesaikan dengan penuh kebijaksanaan demi kemaslahatan umat dan bangsa. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
December 20, 2025
CB Blogger
Indonesia“Pernyataan sikap ini disampaikan demi menjaga keutuhan NU sebagai jam’iyah pembawa rahmat bagi seluruh alam,” demikian dalam deklarasi tersebut.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh dinamika di tubuh NU dapat diselesaikan dengan penuh kebijaksanaan demi kemaslahatan umat dan bangsa. (Asep GP)***
Inilah Pernyataan Sikap Resmi PWNU Jabar dan 27 PCNU Terkait Dinamika di Tubuh Pengurus Besar PBNU
Deklarasi dibacakan oleh Ketua PWNU Jabar, KH Juhadi Muhammad. Dihadiri 27 PCNU se-Jabar. (Foto istimewa) BANDUNG, 20 Desember 2025 — Perny...
Sunday, December 7, 2025
Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025, Komnas Perempuan menyelenggarakan konsolidasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender di Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman” berlangsung di Hotel Golden Flower, Jl. Asia Afrika No. 15–17 Kota Bandung, Jumat (5/12/2025).
Peringatan 16 HAKTP di Jabar telah dimulai sejak 3 Desember dan akan ditutup melalui kegiatan publik pada Car Free Day Kota Bandung. Agenda ini diharapkan memperluas edukasi publik sekaligus memberikan dukungan moral bagi para penyintas dan keluarga mereka.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat lonjakan signifikan kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2024 meningkat 14,7 persen dibanding tahun sebelumnya dengan total 33.097 kasus, dan kekerasan berbasis gender online menjadi bentuk kekerasan tertinggi di ruang publik.
Anggota Komnas Perempuan Daden Sukendar yang hadir saat itu mengungkapkan bahwa kekerasan berbasis gender online yang kini dalam regulasi disebut sebagai Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE) masih mendominasi laporan masyarakat.
Di ranah publik, kata Deden, laporan paling banyak adalah Kekerasan Berbasis Gender Online atau KSBE. Di ranah privat, kekerasan seksual pun sama, masih menunjukkan angka yang tinggi.
![]() |
| Anggota Komnas Perempuan, Daden Sukendar (Foto Asep GP) |
Deden berpendapat dengan adanya lonjakan kasus ini menunjukkan penanganan kekerasan terhadap perempuan belum berjalan optimal, meski Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
Menurut Daden, lahirnya UU TPKS menjadi tonggak penting perlindungan korban karena mengatur secara komprehensif, tidak hanya soal korban, tetapi juga hak pelaku, termasuk rehabilitasi. Namun, implementasinya di lapangan masih belum maksimal.
“Masih banyak aparat penegak hukum dan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya penerapan UU TPKS. Di beberapa daerah, penanganan kasus masih merujuk pada KUHP lama,” ujarnya.
Komnas Perempuan pun terus mendorong agar UU TPKS dapat diterapkan secara penuh dan merata di seluruh wilayah Indonesia agar korban memperoleh perlindungan hukum yang jelas dan berpihak.
Deden juga mengatakan, “Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Harus ada kerja bersama melalui kolaborasi pentahelix antara akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, pemerintah, media, dan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Komnas Perempuan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para korban, penyintas, serta keluarga agar tidak merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan.
Data lengkap kekerasan terhadap perempuan ini dapat diakses publik melalui Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan sebagai bahan evaluasi nasional terhadap implementasi kebijakan perlindungan korban.
Menurut Daden, lahirnya UU TPKS menjadi tonggak penting perlindungan korban karena mengatur secara komprehensif, tidak hanya soal korban, tetapi juga hak pelaku, termasuk rehabilitasi. Namun, implementasinya di lapangan masih belum maksimal.
“Masih banyak aparat penegak hukum dan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya penerapan UU TPKS. Di beberapa daerah, penanganan kasus masih merujuk pada KUHP lama,” ujarnya.
Komnas Perempuan pun terus mendorong agar UU TPKS dapat diterapkan secara penuh dan merata di seluruh wilayah Indonesia agar korban memperoleh perlindungan hukum yang jelas dan berpihak.
Deden juga mengatakan, “Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Harus ada kerja bersama melalui kolaborasi pentahelix antara akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, pemerintah, media, dan aparat penegak hukum,” tegasnya.
Komnas Perempuan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para korban, penyintas, serta keluarga agar tidak merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan.
Data lengkap kekerasan terhadap perempuan ini dapat diakses publik melalui Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan sebagai bahan evaluasi nasional terhadap implementasi kebijakan perlindungan korban.
![]() |
| Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Pemprov Jabar, Anjar Yusdinar (Foto Asep GP) |
Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Pemprov Jabar, Anjar Yusdinar, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa Jabar menghadapi kompleksitas persoalan sosial yang berkaitan erat dengan beban populasi terbesar di Indonesia. Tantangan seperti stunting, tingginya angka perceraian, hingga perkawinan anak masih memerlukan kerja kolaboratif lintas sektor.
“Tantangannya tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kita harus bergerak bersama dengan pendekatan pentahelix: akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media,” katanya.
Anjar juga menegaskan, media memiliki peran strategis dalam edukasi publik dan pencegahan kekerasan melalui pemberitaan yang sensitif gender.
DP3AKB Jabar turut meneguhkan komitmen memastikan pemenuhan hak-hak korban, mulai dari pemulihan fisik dan pendampingan psikologis hingga pendampingan hukum. Ia mengingatkan bahwa penanganan kasus tetap berlandaskan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
“Tidak boleh ada penyelesaian kasus kekerasan seksual di luar proses pengadilan. Aturannya sudah jelas,” tegasnya.
Anjar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas aparat penegak hukum di tingkat kabupaten/kota agar perspektif perlindungan korban dapat semakin seragam. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
December 07, 2025
CB Blogger
Indonesia“Tantangannya tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kita harus bergerak bersama dengan pendekatan pentahelix: akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media,” katanya.
Anjar juga menegaskan, media memiliki peran strategis dalam edukasi publik dan pencegahan kekerasan melalui pemberitaan yang sensitif gender.
DP3AKB Jabar turut meneguhkan komitmen memastikan pemenuhan hak-hak korban, mulai dari pemulihan fisik dan pendampingan psikologis hingga pendampingan hukum. Ia mengingatkan bahwa penanganan kasus tetap berlandaskan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
“Tidak boleh ada penyelesaian kasus kekerasan seksual di luar proses pengadilan. Aturannya sudah jelas,” tegasnya.
Anjar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas aparat penegak hukum di tingkat kabupaten/kota agar perspektif perlindungan korban dapat semakin seragam. (Asep GP)***
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2024 Melonjak 14,7 Persen, Kekerasan Berbasis Gender Online Tertinggi di Ruang Publik
Dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025, Komnas Perempuan menyelenggarakan konsolidasi masyarakat si...
Sunday, November 16, 2025
![]() |
| Teater Kontemporer Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik "Kapai-Kapai (Arifin C. Noor) dipentaskan NEO Theater Indonesia di IFI Bandung, 12-13/11/2025 (Foto: Asep GP) |
Hal itu terlihat dari membludaknya penonton yang memenuhi Auditorium IFI Bandung, Jalan Purnawarman No. 32 Kota Bandung, selama dua hari pagelaran (12–13 November 2025) mulai pukul 19.30 WIB.
Acara yang diinisiasi NEO Theatre Indonesia ini didukung Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025, bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) Bandung dan Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung.
Pertunjukan teater yang disutradarai Fathul A. Husein, berdurasi satu jam lebih lima menit ini, didukung para aktor: Retno Dwimarwati (Rektor ISBI Bandung), Yani Mae, Hendra Permana, Muhamad Nur Rozzaq, Fellycha Yuliwanda Aletika, Xena Nursyifa, dan Salma Najiyah. Penari oleh Aulia Rachma dan Ardelia Manarina Faihaa Azhaar, vokalis & dalang oleh Sumartana, penata artistik & pimpinan pentas oleh Ade II Syarifuddin, penata busana & perancang grafis oleh Dita Rosmaritasari, penata rias oleh Mardaleni Muchtar, penata musik & suara oleh Isep Sepiralisman, penata lampu oleh Zamzam Mubarok, penata pentas oleh Ali Nurdin, Oki Suhendra, dan Mang Iwey. Dokumentasi foto & video oleh Herfan Rusando, Ade Daryana, dan Nietzani Adama Mahatma.
![]() |
| Unsur Sintren dimasukan (Foto: Asep GP) |
Usai pertunjukan pada malam kedua (terakhir, Kamis, 13/11/2025), dilanjutkan dengan diskusi di tempat yang sama. Menghadirkan pembicara: Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat Seni FF UNPAR dan ahli metafor), Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang (Guru Besar Seni Rupa FSRD ITB dan ahli semiotika), dan Fathul A. Husein (sutradara pertunjukan), dan dipandu oleh Dr. Ipit Saefidier Dimyati.
Fathul A. Husein, sebagai penulis teks pertunjukan dan sutradara juga pimpinan NEO Theatre Indonesia, mengatakan pertunjukan bertajuk “Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI” ini merupakan sebuah pertunjukan teater kontemporer menggunakan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks; dari teks dramatik (dramatic text), ke teks pertunjukan (performance text), dan ke mise en scène.
![]() |
| Wayang Kulit Pantura ( Foto: Asep GP) |
Tentu saja, kata Fathul, pertunjukan ini berdasarkan lakon asli “Kapai-kapai” sebagai teks dramatik karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995).
Inti lakon “Kapai-kapai” (ditulis pada tahun 1970) mengisahkan perjuangan hidup tokoh utamanya, Abu, seorang tokoh yang terpinggirkan dan hidup dalam kemiskinan material dan moral. Kisah ini berpusat pada pencarian Abu untuk menemukan “Cermin Tipu Daya”, sebuah cermin ajaib yang selalu diceritakan ibunya, Emak, dalam dongeng. Dalam dongeng Emak, seorang pangeran dan putri hidup bahagia dan terhindar dari bahaya dan malapetaka berkat “Cermin Tipu Daya”. Abu sangat terpengaruh oleh kisah tersebut dan percaya bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan jika ia menemukan “Cermin Tipu Daya”, yang menurut Emak berada di “Ujung Dunia”.
![]() |
| Tokoh Emak yang diperankan Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimawarti, sedang membelah semangka, simbol porak-porandanya kehidupan (Foto: Asep GP) |
Perjalanan dan penderitaan Abu dalam melakoni hidup yang penuh kesulitan dan kerja keras sebagai buruh, namun ia terus memendam mimpi-mimpi fantastis tentang “Cermin Tipu Daya”. Ia bahkan mengajak istrinya, Iyem, dalam perjalanan panjang dan sangat berat (sesungguhnya “perjalanan spiritual”) mencari “Ujung Dunia” (kematian). Pada akhirnya, setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan penderitaan, Abu konon menemukan “Cermin Tipu Daya” justru manakala ajalnya tiba.
“Moral cerita yang hendak disampaikan melalui lakon ini: kisah surealis yang menggambarkan harapan, ilusi, dan perjuangan umat manusia dan kemanusiaan dalam mencari kebahagiaan sejati, jati diri, yang sering kali hanyalah fantasi yang tak mungkin tercapai dalam kenyataan,” jelas Fathul.
![]() |
| Berjuang melawan kemiskinan moral dan materil (Foto: Asep GP) |
Pertunjukan teater kontemporer ini, kata Fathul, menekankan pendekatan tafsir dekonstruksi dan transformasi teks berdasarkan lakon “Kapai-kapai” karya dramawan Indonesia, Arifin C. Noer (1941–1995). Lakon dengan beberapa bagian penting dan verbalitas tekstual (dialog dan arahan pengarang) di dalamnya, semata-mata dipinjam untuk menjadi lebih sebagai “peristiwa” pertunjukan daripada sekadar dominasi narasi verbal (kata-kata).
“Tema asli lakon tentang nasib kaum marginal yang miskin dan sengsara sebagai korban yang tak terelakkan (baca: harus diciptakan) dari kekuasaan era industrialisasi dan kemajuan, modernitas dalam cengkeraman gurita raksasa kapitalisme, melalui konsep pertunjukan ini ditransformasikan menjadi kekuatan dramatis, simbolisme gestur/gerak, surealisme imajinatif yang dijalin dengan musikalitas minimalis dan tembang-tembang tradisional (yang aslinya lebih berfungsi sebagai mantra) untuk menandai kelam dan getirnya kehidupan, tentang peniadaan jati diri manusia dan kemanusiaan, yang menjadi pesan inti lakon,” paparnya.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Selain itu, kata Sutradara Fathul, intertekstualitas dengan kearifan filsafat Timur, seperti Lao Tzu, juga merasuk ke dalam jiwa pertunjukan kontemporer ini. Idiom bentuk seni teater tradisional yang “dipinjam” melalui pertunjukan ini setidaknya adalah teater tradisional Tarling (mengandung unsur drama, musik, dan lagu), Sintren (mengandung unsur tari, musik, dan mitos bidadari), dan Wayang Kulit (teater boneka bayang-bayang yang lumrahnya berlandaskan pada kearifan kisah Ramayana atau Mahabharata), di mana ketiga jenis teater tradisional tersebut terutama diambil dari sumber wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Bertolak dari lakon “Kapai-kapai”: bagaimana sebuah lakon (dramatic text) dipahami, ditafsirkan, dan ditransformasikan ke atas panggung menjadi performance text dengan menerapkan sebuah pendekatan strategi & siasat pemanggungan yang terkonsep secara kokoh dan mumpuni (mise en scène).
![]() |
| Disambut baik pihak IFI Bandung (Foto: Asep GP) |
“Keseluruhan teks lakon asli hanya diambil sekitar sepertiganya saja dari keseluruhan teks lakon, sebelum kemudian mendapat persentuhan intertekstualitas dari beberapa entitas teks dan konteks dari luar yang merasuk ke dalam teks asli tersebut,” pungkas Fathul.
Proses eksplorasi dan latihan pertunjukan teater kontemporer telah diundang pula dalam rangka workshop pertunjukan (performance workshop) oleh LASALLE College of the Arts, Singapura, 13–14 Oktober (bertempat di Kampus LASALLE), dan oleh Fakulti Seni Kreatif Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, pada 16–18 Oktober (bertempat di Kampus UM). Hasilnya telah menciptakan suatu kolaborasi kecil dan ditampilkan di sana dengan melibatkan beberapa mahasiswa yang terpilih dari proses singkat workshop.
Tapi intinya, kata Fathul, “Ini bukan terlalu teaternya, bukan terlalu ngobrol-ngobrolnya (diskusi), tapi yang penting silaturahimnya, nilai silaturahimnya, pertemuan langsung kita sesama manusia. Kita bahkan banyak dipertemukan lagi dengan teman lama di pagelaran ini. Semoga teater tetap punya kehidupan yang lebih baik ke depannya,” harapnya.
Pertunjukan yang Penuh Simbol dan Sarat Makna Kehidupan
Sementara itu, Rektor ISBI Bandung, Retno Dwomarwati, yang dalam pertunjukan tersebut memerankan tokoh Emak, mengatakan pada wartawan: ISBI ikut mengisi auditorium IFI sebagai ruang pertunjukannya demi meraih publik yang baru. Di samping itu, di IFI juga sudah lama tidak ada pertunjukan teater, sudah jarang. Selain itu, gedung pertunjukan di kampus ISBI Bandung yang satu-satunya itu penuh tiap hari, dipakai ujian (resital) Prodi Teater hingga 25 November 2025.
Menanggapi dimasukkannya teater tradisional Tarling (gitar–suling dari Cirebon), Sintren (perempuan perawan dimasukkan ke kurungan ayam, lalu berubah dandanannya menjadi bidadari), dan Wayang Kulit semuanya dari Pantura (pantai utara) Jawa Barat, “Sebetulnya kalau ISBI tetap saja, bagaimana membaca tradisi dengan cara-cara baru. Sedangkan Arifin C. Noer orang Pantura kental dan semua naskah-naskahnya juga membaca Pantura dengan sangat baik. Nah mungkin Pak Fathul juga karena orang Pantura, jadi dia bisa menangkap semua esensi ke-Panturaan-nya lewat elemen artistik yang ada pada pertunjukan ini,” jelas Retno.
![]() |
| Bincang-bincang usai pagelaran ( Foto: Asep GP) |
Retno juga menerangkan perannya sebagai Emak; bisa saja Emak itu sebagai simbol Ibu Pertiwi, atau pelindung, dsb. “Jadi sebetulnya di sini Tuhan itu menampakkan dengan waktu. Sang Kelam itu mungkin ada takdir, ada waktu; sementara Emak itu adalah orang yang memelihara kehidupan ini,” kata Retno.
Ditanya edukasinya untuk mahasiswa, menurut Retno mereka bisa mempelajari pertunjukan teater yang sarat simbol-simbol yang berguna untuk mengenal budaya tradisi dan warna-warni kehidupan ini.
“Sebetulnya pertunjukan ini penuh dengan simbol. Jadi nanti bisa dipelajari bagaimana Sintren yang sudah jarang dipertunjukkan di Bandung itu, kita jadi tahu bahwa Sintren itu adalah proses ritual yang membangunkan penari untuk trance (kesurupan, kemasukan ruh). Itu menghubungkan antara dunia bawah dengan dunia atas. Jadi itu yang akan disampaikan di sini; bagaimana kurung ayam itu juga berarti dunia, dan semangka (yang dibelah-belah sama Emak) pun bisa berarti kehidupan di dunia ini yang memang sudah porak-poranda. Jadi pembacaan-pembacaan seperti itu memang dihadirkan oleh Pak Fathur,” terangnya.
![]() |
| Para pemeran pagelaran (Foto: Asep GP) |
Jadi intinya, pelajaran/tema moral yang mau disampaikan dari pertunjukan teater ini adalah bahwa sebenarnya manusia harus dekat dengan Tuhan, karena Dialah yang bisa membolak-balikkan manusia. Jadi ketika tadi Si Kelam berbicara bahwa Tuhanlah yang mulai menciptakan kemudian Dia juga yang memporak-porandakan, berarti semua manusia itu hidup atas dasar kehendak Tuhan.
“Jadi bagaimana kesalehan Arifin C. Noer dapat dibaca di sini. Kemudian Pak Fathur mengangkat gaya-gaya Arifin C. Noer yang sangat memperdulikan rakyat kecil, itu juga lahir di sini. Bagaimana orang yang sudah tidak ada harapan kemudian tetap bangkit (tetap tenang karena ada Cermin Tipu Daya — dalam hal ini mungkin Kotak Pandora). Jadi selalu ada harapan walaupun kita terpuruk sangat parah dalam kondisi kehidupan ini. Toh harapan itu selalu ada, dan kita terus berjuang untuk mendapatkan harapan itu, semoga,” demikian pungkas Bu Rektor. (Asep GP)***
NEO Theatre Indonesia Sukses Gelar Teater Kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik Kapai-Kapai” Karya Arifin C. Noer
Teater Kontemporer Dekonstruksi Minimalis Teks Dramatik "Kapai-Kapai (Arifin C. Noor) dipentaskan NEO Theater Indonesia di IFI Bandung,...
Friday, November 14, 2025
Sumedang, Jawa Barat — Di tengah geliat industri kreatif nasional, sebuah inisiatif inspiratif tumbuh dari Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Adalah Dr. Warli Haryana, M.Pd., seorang pendidik seni dan praktisi seni dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) yang ingin mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.
![]() |
| Warli Haryana (kaos merah) bersama Cikgu (guru) dan Pensyarah (dosen) dari Malaysia, serta masyarakat Pasirnanjung, Cimanggung (Foto: Istimewa). |
Awalnya kegiatan sederhana saja, dan sejak tahun 2020-an program Pengabdian Kepada Masyarakat yang digagas akademisi seni rupa ini telah membuka ruang pembelajaran kreatif bagi warga, baik pemuda maupun orang tua, untuk mengenal dan mengembangkan potensi seni rupa sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi.
![]() |
| Pengenalan pemahaman seni, budaya, serta desain kepada masyarakat di Perum Puteraco, Cimanggung (Foto: Istimewa). |
Pada akhir November 2025 ini, Warli akan mengadakan praktik dalam bidang teknik sublime transfer paper ke media kaos dan goody bag. Sebagai bentuk pelatihan tambahan yang sebelumnya sudah diajarkan dengan teknik cetak saring (teknik sablon) di atas kertas dan kain, kemudian teknik sublime di media mug.
Kegiatan ini sebagai pemberdayaan kepada masyarakat desa melalui pelatihan teknologi digital sublimasi dalam pembuatan desain merchandise berbasis kearifan budaya untuk menciptakan peluang usaha di bidang industri kreatif.
Kegiatan ini sebagai pemberdayaan kepada masyarakat desa melalui pelatihan teknologi digital sublimasi dalam pembuatan desain merchandise berbasis kearifan budaya untuk menciptakan peluang usaha di bidang industri kreatif.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan gerakan pemberdayaan berbasis seni yang mengintegrasikan pembelajaran teknik cetak digital, teknik cetak saring, serta desain ornamen dasar sebagai fondasi kreativitas. Peserta diajak untuk memahami proses sketsa, mengenal aplikasi desain grafis berbasis Android, hingga mempraktikkan teknik transfer gambar (teknik sublime) ke berbagai media seperti mug, kaos, paper bag, dan goody bag, dan seterusnya.
![]() |
| Saat mengajarkan teknik cetak saring (sablon) kepada masyarakat di Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang (Foto: Istimewa). |
Warli berharap masyarakat merasakan langsung proses kreatif, dari menggambar hingga menghasilkan produk yang bernilai jual. “Ini bukan hanya soal seni, tapi tentang membuka peluang industri kreatif lokal,” ujar dosen dan peneliti seni rupa UPI kepada wartawan baru-baru ini di Bandung.
Bahkan, kata Warli, kegiatan ini sudah dua kali dihadiri praktisi seni, dosen, serta guru dari Malaysia. Mereka turut serta memberikan pengalaman berkarya seni dan pemahaman tentang dasar-dasar seni rupa dan desain sebagai bentuk kolaborasi pemberdayaan kepada masyarakat.
![]() |
| Saat mengajarkan teknik sublime dengan media mug kepada masyarakat di Perum Puteraco, Desa Pasirnanjung, Cimanggung, Kabupaten Sumedang (Foto: Istimewa). |
Dalam kegiatan itu hadir pula Dr. Dzul Afiq Bin Zakaria, seorang dosen dan praktisi seni dari Universitas Malaysia; Shaydenaim Bin Md. Salleh, seorang guru dari Sekolah Berprestasi Tinggi Malaysia; dan Khairudin Zainuddin, M.A., seniman sekaligus pensyarah (dosen) Malaysian Institute of Art, Hometown Kelantan, Malaysia, yang sudah tiga kali singgah dan memberikan pengalaman berkeseniannya kepada masyarakat di Perum Puteraco. Serta seorang lagi, Mohd Jasmin Bin Md. Jamel, Ketua Jabatan Sains Sosial Maktab Rendah Sains Mara Pendang Kedah, Malaysia, yang baru pertama ikut hadir dan merasa senang mendapat pengalaman baru serta berbagi ilmu dengan masyarakat di Desa Pasirnanjung ini.
![]() |
| Contoh desain merchandise karya Yusup Septi Ardian, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FPSD UPI. |
Program ini, kata Warli, diharapkan dapat membuahkan hasil nyata dalam bidang produk industri kreatif. Dan alhamdulillah, katanya, beberapa warga yang mengikuti pelatihan ini merasa gembira dan tertarik untuk belajar. Sehingga jika pelatihan ini berlanjut terus, diharapkan dapat mengembangkan usaha rumahan berbasis desain dengan dukungan materi dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Harapan ke depannya, Desa Pasirnanjung tumbuh menjadi desa kreatif yang melahirkan individu-individu produktif dan inovatif, serta membawa nama daerah ke panggung industri kreatif nasional,” kata Warli pasti.
“Harapan ke depannya, Desa Pasirnanjung tumbuh menjadi desa kreatif yang melahirkan individu-individu produktif dan inovatif, serta membawa nama daerah ke panggung industri kreatif nasional,” kata Warli pasti.
![]() |
| Contoh desain merchandise karya Talitha Fidelya Huwaida, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FPSD UPI. |
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat setempat, termasuk Ketua RW dan sejumlah pemuka warga, yang turut hadir dan memberikan apresiasi atas dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan edukatif yang kontekstual, Pengabdian Kepada Masyarakat ini semoga menjadi contoh di masyarakat bagaimana seni rupa dapat menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi. Sebuah langkah kecil dari Sumedang, dan semoga dapat membawa dampak bagi masa depan industri kreatif di Desa Pasirnanjung khususnya, dan dapat berkembang di masyarakat daerah yang ada di Indonesia,” demikian pungkas Warli Haryana. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
November 14, 2025
CB Blogger
Indonesia“Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan edukatif yang kontekstual, Pengabdian Kepada Masyarakat ini semoga menjadi contoh di masyarakat bagaimana seni rupa dapat menjadi alat transformasi sosial dan ekonomi. Sebuah langkah kecil dari Sumedang, dan semoga dapat membawa dampak bagi masa depan industri kreatif di Desa Pasirnanjung khususnya, dan dapat berkembang di masyarakat daerah yang ada di Indonesia,” demikian pungkas Warli Haryana. (Asep GP)***
Warli Haryana Dorong Desa Kreatif dengan Pengabdian Seni Rupa di Perum Puteraco Desa Pasirnanjung, Cimanggung, Sumedang
Dr. Dzul Afiq Bin Zakaria, Shaydenaim Bin Md. Salleh , dan Khairudin Zainuddin, MA, serta Mohd Jasmin bin Md. Jamel, Ketua Jabatan Sains Sos...
Tuesday, October 14, 2025
![]() |
| Para Santri dan Dosen Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha (Sumber: Tim Pengabdi) |
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) secara mandiri, melalui Pemberdayaan Masyarakat secara berkelanjutan tersebut, berlangsung pada Sabtu, (11/10/2025) di Pondok Pesantren Putra-Putri Rancaherang, Jalan Cibogo RT 02/ RW 04, Sukawarna, Sukajadi, Bandung.
Kegiatan dilaksanakan oleh 5 orang Dosen dari Program Sarjana Seni Rupa Murni dan Desain Komunikasi Visual bersama dengan 8 Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Maranatha Bandung.
Implementasi dari salah satu Tri Drama Pergurung Tinggi tersebut berupa pelatihan pembuatan kain kanvas lukis dengan menggunakan tepung lithophon dan teknik laburan yang dilakukan di Pesantren Rancaherang.
“Dengan adanya pelatihan tersebut, para Santriawan dan Santriwati selain mendapatkan ilmu agama yang didapatkan selama mondok, mereka juga punya bekal keilmuan lain yang dapat mereka kembangkan di masa depan sebagai modal berwirausaha,” demikian dikatakan Ketua Pelaksana Kegiatan, Wawan Suryana M.Sn yang juga merupakan dosen aktif di Program Sarjana Seni Rupa Murni.
Tentu saja dengan hadirnya para dosen dan mahasiswa yang berbagi ilmu kepada para santrinya itu membahagiakan Pimpinan Pondok Pesantren Rancaherang, Ustad Ahmad Iqoni. “Pada hari ini saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat dengan kehadiran para dosen dan mahasiswa di pondok untuk berbagi ilmu kepada para santri,” katanya haru.
![]() |
| Bapak Wawan Suryana memberikan materi pelatihan (Sumber: Tim Pengabdi) |
Ustad Ahmad pun berharap kedepannya kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan materi lainnya seperti lukis atau kaligrafi, karena hal ini sangat diidam-idamkan oleh para santri sebagai bekal kedepannya.
Demikian juga Ketua RT setempat, Ibu Enung yang turut hadir dalam pelaksanaan ini menyampaikan rasa apresiasinya karena hal ini dapat meningkatkan keterampilan anak-anak. “Semoga ke depannya, pelatihan seperti ini bisa meluas ke rt/rw sekitar untuk dapat memberikan pengalaman serta peningkatan keterampilan,” harapnya.
Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Berbasis Pesantren
Pesantren Rancaherang saat ini menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian serius, khususnya dalam upaya meningkatkan keterampilan para santri agar mampu menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berkembang. Salah satu isu mendasar yang muncul adalah rendahnya keterampilan teknis yang dimiliki oleh santri dalam bidang seni rupa, khususnya keterampilan membuat kanvas dengan teknik laburan berbasis pemanfaatan bahan alami seperti tepung lithophon.
![]() |
| Proses pelatihan (Sumber: Tim Pengabdi) |
Permasalahan ini tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi pendidikan keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis pesantren. Kegiatan ini secara faktanya telah memberikan dampak yang bermanfaat dengan adanya salah satu alumni santriawan telah mengembangkan keterampilan yang didapatkan dari kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh Program Sarjana Seni Rupa Murni, dan membuka ruang usahanya sendiri yaitu membuat kanvas dengan tekhnik laburan Lithophon ini di kota Cianjur.
Para Santri turut menyampaikan juga rasa ketertarikan serta harapan supaya kegiatan ini tidak berhenti pada pembuatan kain kanvas saja, tetapi bisa terus berkelanjutan karena hal ini dapat memberikan dampak dan manfaat lebih bagi mereka. Seluruh tim pengabdi memiliki harapan agar kegiatan pengabdian ini mampu memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berilmu agama, tetapi juga generasi kreatif, mandiri, dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi lokal dan berdampak langsung terhadap Masyarakat sekitar lingkungan Universitas Kristen Maranatha. (Rls/ AGP)***
PKM Program Sarjana Seni Rupa Murni UK Maranatha di Pesantren Rancaherang
Para Santri dan Dosen Mahasiswa Program Sarjana Seni Rupa Murni Maranatha (Sumber: Tim Pengabdi) Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) secara ...
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)








.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)







.jpg)
.jpg)






















