Monday, July 13, 2026
![]() |
| Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) |
Kelompok muda Bikers For Nature Life yang terdiri dari enam klub motor: Accidentally Familia, Rebel Bastard, Barred Nomad, Esquadron, Courage B’Brothers, dan Dulur MC, menggelar aksi terpuji dengan melakukan penghijauan, menanam ratusan pohon tegakan dan buah-buahan di Punclut, Bandung Utara, pada Minggu (12/7/2026).
Hal ini dilakukan untuk mengejar target penanaman hingga 3.000 bibit pohon sampai akhir tahun 2026.
Menurut Ketua Komunitas Bikers For Nature Life sekaligus Ketua Pelaksana, Gibran Ajib Jabbaril, kegiatan ini merupakan respons atas kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Bandung, termasuk Kawasan Bandung Utara (KBU) dan wilayah penyangganya, yang hingga kini masih menjadi persoalan serius.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
“Saat ini tutupan RTH di Bandung baru berkisar 17% hingga 24%. Padahal amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mewajibkan minimal 30% dari total luas wilayah harus berupa RTH,” jelas Gibran.
Di sisi lain, alih fungsi lahan di KBU sudah mencapai hampir 70% dari luas yang seharusnya menjadi kawasan hijau. Lonjakan pertumbuhan penduduk memicu konversi lahan menjadi permukiman dan ruang usaha, sehingga daya dukung lingkungan semakin tertekan.
“Merespons kondisi tersebut, kami komunitas anak muda yang tergabung dalam Bikers For Nature Life mengambil inisiatif nyata dengan menggelar aksi penghijauan,” tegas Gibran.
Kegiatan ini juga didukung oleh Serikat Petani Pasundan (SPP), Aktivis 98, Mapas, Jaga Seke, Satc Outdoor, Meped Interior, Maci, Oktum Boy, dan Watchjoe WD.
![]() |
| Gibran, Ketua Komunitas Muda "Bikers For Nature Live"(Kanan) bersama Wachjoe WD (Penasihat "Bikers For Nature Live") Foto: istimewa |
“Ini bukan sekadar aksi seremonial. Kami, anak muda, ingin membuktikan bahwa dengan motoran bisa berdampak baik untuk alam. Target kami adalah membantu mengembalikan fungsi ekologis KBU dan mengajak lebih banyak orang peduli terhadap kekurangan RTH di Bandung,” pungkas Gibran Ajib Jabbaril.
![]() |
| Foto bersama selesai acara |
Bikers For Nature Life berharap aksi ini menjadi pemantik kolaborasi antara bikers, petani, dan masyarakat luas untuk menjaga Bandung Utara sebagai kawasan resapan air dan paru-paru kota. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia
Kelompok Muda Bikers For Nature Life Gelar Aksi Penghijauan di Punclut Bandung Utara
Aksi Penghijauan Kelompok Anak Muda "Bikers For Nature Live" di Kawasan Punclut,Bandung Utara.Minggu (12/7/2026).(Foto: Istimewa) ...
![]() |
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) |
Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata No. 68 (Jalan Riau), Kota Bandung. Pameran yang berlangsung dari 10 Juli hingga 10 September ini dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.Ikom., dan dimeriahkan oleh Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
Tatarjabar.com
July 13, 2026
CB Blogger
Indonesia![]() |
Gunting pita oleh Atalia Praratya sebagai tanda pameran resmi dibuka. (Foto: Asep GP) |
Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia) Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh lewat pengalaman berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dulu mempertemukan mereka.
![]() |
| Mengapresiasi Karya (Foto: Asep GP) |
Tajuk pameran "Pertemuan Ruang Waktu" ini, kata Kurator Pameran Rahmat Jabbaril, mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya adalah rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya jadi lokasi, dan waktu tidak hanya hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
![]() | ||
|
Rahmat juga membaca pameran ini lewat perspektif fenomenologi Edmund Husserl: kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. "Pertemuan Ruang Waktu" hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya, yang saat itu membuka acara. Hampir semua seniman diajak ngawangkong, ditanya, dan diapresiasi karyanya. Kelihatannya Bu Cinta sangat menikmati sekali. Ya, maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini penikmat seni, tahu dan mengerti tentang seni. Mantannya (Ridwan Kamil, mantan Gubernur Jabar) seorang arsitek kawakan dan banyak karya lukisnya. Ditambah putrinya sering memaksa diantar melihat pameran seni rupa dan pergi ke museum.
![]() |
| Foto: Asep GP |
"Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, dan berkaitan dengan waktu yang mematangkannya. Bu Cinta kenapa sok tahu tentang seni? Kan mantan saya orang seni, seniman dan arsitek yang senang melukis, dan anak saya hobinya ke museum melihat pameran. Jadi ema nya digigiwing diajak menemani," kata Atalia sambil tertawa, disambut tepuk tangan hadirin.
![]() |
| Foto: Asep GP |
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, adalah sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mengumpulkan mereka yang satu tujuan terkait keindahan, tetapi juga bisa bernostalgia dan bersilaturahmi. Bersama, tetapi menunjukkan bahwa seni itu bisa beresonansi terkait semangat menghasilkan karya, semangat untuk terus belajar, dan bagaimana menciptakan karya seni yang bermakna.
![]() |
| Risma Nurhadiyani, Marcom Hotel De Paviljoen Bandung (Foto: Asep GP) |
"Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi kalau ada sebuah ruang pameran, ya bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi menunjukkan bahwa memang seni itu akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, dan juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, juga kolaborasi bagi seluruh insan seni dan juga para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga kan mengayakan kebudayaan kita," pungkas Bu Cinta sambil menggunting pita.
![]() |
| Rahmat Jabbaril, Sang Kurator Pameran De Paviljoen Hotel (Foto:Asep GP) |
Kenapa di Hotel De Paviljoen Bandung Sering Ada Pameran Seni?
"De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi kita tidak meninggalkan seninya. Makanya di sini selalu ada pameran seni, tidak hanya lukisan, biasanya ada pameran batik, dll.," demikian dikatakan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan opening saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Risma juga menjelaskan, untuk art exhibition kali ini, apabila ada masyarakat yang ingin mengapresiasi karya seni dipersilakan datang, dan kalau berminat bisa langsung membelinya.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
"Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harganya, tentang senimannya, judul karyanya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh," kata alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini, ramah sekali.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Ya, itulah asa Sang Kurator De Paviljoen, Rahmat Jabbaril. Makanya ia sekarang sedang rajin-rajinnya membangun dan mengumpulkan komunitas-komunitas seni di Bandung dan di luar Bandung untuk balik ke Bandung dan membesarkan Kota Paris van Java ini agar jadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Karena di Bandung banyak perguruan tinggi seni, banyak seniman yang sudah malang melintang di event-event besar dunia, juga bisa melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik seperti Bung Karno yang kuliah di ITB Bandung dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Gagasan-gagasan seperti itu, kata Rahmat, harus jadi energi.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Sudah ada sembilan komunitas yang terpetakan sejak 2023-2026 Rahmat menjadi kurator di De Paviljoen, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, dan siswa SD.
Ini di luar seniman kampus, walau ada beberapa anggotanya dari kaum akademisi. Belum dari sanggar-sanggar seni dan seniman-seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dulunya pernah berkesenian di Bandung. Termasuk para alumni STISI Bandung yang berpameran sekarang. Dulu STISI Bandung (berdiri 2 September 1990) kampusnya di Jl. Soekarno-Hatta No. 581 Bandung, lalu bertransformasi menjadi STISI Telkom (2010), dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Kata Rahmat, kalau semua dikumpulkan ada ribuan dan ketemu lintas generasinya. Ini baru dari seni rupanya saja, belum dari seni lainnya.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
"Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Di saat tertentu, sekira energinya sudah bagus, kita akan bikin event bersama judulnya 'Balik Bandung'. Nanti mau mencari tempat di beberapa titik di Bandung untuk lokasinya, dan itu mimpinya jadi semacam Perayaan Seni," kata Rahmat pasti.
Untuk itu Rahmat berharap ada hotel seperti De Paviljoen atau rumah usaha lainnya seperti kafe, restoran, yang bisa diajak berkolaborasi. Sebab seniman tidak akan berkembang kalau tidak ada kerja sama dengan perusahaan seperti hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan sebagainya, yang sebetulnya bisa dieksplorasi.
"Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota itu juga adalah ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, bisa apa saja. Kalau masalah display mah soal teknis. Tapi prinsipnya mau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung," tutur Rahmat.
Kata Rahmat, pemerintah seharusnya mewadahi. Tapi semoga saja setelah ada komunikasi, pihak pemerintah mau diajak berkolaborasi.
![]() |
| (Foto:Istimewa) |
Rahmat juga mengajak kepada seniman Bandung agar membesarkan Bandung, sarakan-nya (tempat kelahiran), terlebih dahulu, baru daerah lainnya. Karena perhelatan seni kontemporer di Yogya, ARTJOG, dan ARTSUB (di Surabaya) itu penggagasnya anak-anak muda Bandung.
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
"Bisa begitu, karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya enggak bisa diajak eksplorasi, itu dari dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya enggak peduli mau siapa pun wali kotanya, pokoknya mah saya asli kelahiran Ciroyom Bandung, daerah bronx, masa tidak sanggup menghidupkan Bandung. Kan para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robi Darwis, dan lainnya juga dulu begitu, dari gang-gang dan kampung Kota Bandung bisa membesarkan Bandung lewat Persib. Begitu juga Presiden Soekarno, sekolah di Bandung, beliau bisa mengharumkan Bandung di dunia internasional, memperjuangkan kemerdekaan negara-negara jajahan agar berdaulat dengan Konferensi Asia-Afrika-nya. Nah kenapa kita sebagai penerusnya enggak bisa? Itu harus bisa. Ya mungkin saya lewat kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme dari kalangan seniman-seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung. Termasuk juga kebijakan pemerintah, kesulitan-kesulitan birokrasi di Bandung itu harus saya lawan," kata Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, tentu saja mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini sangat berterima kasih, karena hanya De Paviljoen yang besar perhatiannya kepada para seniman Bandung dan umumnya Indonesia.
"Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut, sampai kemudian kita benar-benar menyaksikan orang luar datang ke Bandung itu tidak hanya sekadar makan, tidur, tapi juga ada yang bisa dilihat. Itu tujuan saya," pungkas Rahmat. (Asep GP)***
Pameran “Pertemuan Ruang Waktu” Karya 45 Alumni STISI Bandung
Dosen dan alumni STISI Bandung yang berpameran bersama Bu Cinta. (Foto: Asep GP) Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) di Hotel De Pa...
Friday, July 10, 2026
![]() |
| Disambut Upacara Adat Sunda (Foto: Asep GP) |
Kabar bahagia datang dari keluarga besar H. Asep Ruslan MS, S.Hut. dan Hj. Sri Arutinawati (alm). Putri ketiganya, Ulya Fatimah Zahrah, S.Agr. (Ulya), resmi dipersunting oleh Raden Ahmad Alvarizy, S.Agr. (Alva), putra pertama Prof. Dr. R. Arief Helmi, S.E., M.P. dan Rodianah, S.E. Sebagaimana diketahui, Asep Ruslan adalah Presiden/Ketua Umum Paguyuban Asep Dunia (PAD, periode 2020–2025) dan sekarang menjadi Dewan Pembina Pusat PAD (periode 2025–2030). Sedangkan besannya, Prof. Arief Helmi, adalah Guru Besar Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad, dan kini menjabat Rektor Universitas Ekuitas Indonesia (UEI).
Akad dan resepsi pernikahan berlangsung khidmat serta dimeriahkan prosesi adat Sunda (Aki Lengser), Huap Lingkung, Bakakak, Nyawer, serta live music genre Sunda dan nostalgia oleh Sweet Java, pada Sabtu (4/7/2026), di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur No. 35, Kota Bandung. Acara dihadiri keluarga besar, petinggi akademisi, pejabat pemerintahan, handai taulan, sahabat, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
![]() |
| (Foto: Istimewa) |
Terlihat hadir para akademisi, di antaranya: Prof. Dr. R. Dudy Heryady, M.Si.; Drs. Asep (HC) Teuku Rezasyah, M.A., Ph.D.; Dr. Asep Mulyana, S.E., MCE.; Dr. Asep Sukendar, M.Pd.; Drs. Deni S. Hambali, M.Si. (mantan Direktur ASM Ariyanti Bandung); Hj. Nunung Nuraeni, S.Pd., M.Pd. (Kepala SMPN 51 Bandung); dan lain-lain.
![]() |
| Keluarga besar Paguyuban Asep Dunia (PAD) bersama pengantin Ulya & Alfa) |
Pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat juga hadir, di antaranya: Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si. (Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat/Bakesbangpol Jabar); Dr. H. Erwin, S.E., M.Pd. (Wakil Wali Kota Bandung); H. Asep Mulyadi, S.H. (Ketua DPRD Kota Bandung); Drs. Rully H. Alfiady (Ketua Umum AMS); Rd. H. Piar Pratama, S.H. (Ketua Umum Pengurus Besar Pager Kencana Indonesia); Ketua Umum PAD Asep Jaelani, S.Pd., M.Pd.; Ketua Dewan Pembina Pusat PAD Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswandi, S.H.; Brigjen TNI (Purn) Asep Syarifudin (Anggota Dewan Pembina Pusat PAD); Asep Jena, S.H. (Ketua PAD DPD Tangerang–Banten); Asep Ozzy (Ketua PAD DPW Priangan Barat); Andri Perkasa Kantaprawira, S.IP., M.M. (Ketua Badan Pekerja MMS); Rd. Holil Aksan Umarzein (Pini Sepuh MMS); Asep Chaerulloh (mantan Bidang Pencegahan KPK & Wakil Ketua Badan Pekerja MMS); Direktur Utama PT Majmu Musti Sundaya H. Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid.; Jumari Haryadi (Konsultan Media, Pemred MajmusSunda.co.id); dan banyak lagi.
![]() |
| Keluarga besar Paguyuban Asep Dunia (PAD) |
Kedua mempelai juga mendapat pangwilujeng dan doa dari Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rury Ahmad Sururie, S.E., M.Si., beserta seluruh pengurus dan keluarga besar Paguyuban Pasundan di sana.
![]() |
| Kang Asep Ruslan bersama sahabatnya, pengamat Timur Tengah Drs. Asep (HC) Teuku Rezasyah, M.A., Ph.D. |
“Selamat menempuh hidup baru kepada Ananda Raden Ahmad Alvarizy, S.Agr. dan Ulya Fatimah Zahrah, S.Agr. Semoga Allah SWT menjadikan rumah tangga yang dibangun sebagai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dipenuhi keberkahan, kebahagiaan, kesehatan, rezeki yang halal dan luas, serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Semoga cinta kasih keduanya senantiasa terjaga hingga akhir hayat dan menjadi keluarga yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin,” kata Kang Rury.
Perlu diketahui, mempelai perempuan Ulya pernah bersekolah di SMP Negeri 2 Malinau. Asep Ruslan sendiri dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus deklarator berdirinya Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau pada tahun 2015, ketika masih berdinas di PT Adindo Hutani Lestari Kabupaten Malinau.
![]() |
| Mudik dan lagu Penghibur |
Bersama para tokoh Sunda di Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan, beliau berperan aktif membangun wadah silaturahmi, pelestarian budaya Sunda, serta mempererat persaudaraan masyarakat Sunda di Provinsi Kalimantan Utara.
“Alhamdulillah, hingga saat ini Paguyuban Pasundan Kabupaten Malinau tetap eksis dan berkembang sebagai organisasi kemasyarakatan yang aktif melestarikan budaya Sunda melalui berbagai kegiatan sosial, seni, budaya, dan kebersamaan. Paguyuban ini juga menjadi salah satu dari 15 paguyuban yang secara resmi diakui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau, serta terus bersinergi mendukung pembangunan daerah dan memperkuat nilai-nilai persatuan dalam keberagaman,” kata Asep Ruslan, reueus.
Selain itu, Asep Ruslan juga banyak mendapat karangan bunga dari para pejabat, di antaranya dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan; Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., beserta keluarga; Kapolda Jabar Komjen Pol Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H.; Ketua DPRD Jawa Barat Dr. Buky Wibawa, M.Si.; Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi & keluarga; Asep Jena, S.H. (Indictment Jurist & Co); Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M., beserta Ketua Persit KCK PCBS Pussenif Ny. Beti Iwan Setiawan; Burhanuddin Abdullah (Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda, Gubernur Bank Indonesia 2003–2008, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rektor IKOPIN 2011–2023); Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA. (Rektor Unpad ke-10); Prof. Dr. Endang Komara, M.Si. (Rektor UNINUS); Drs. H. Kusmana Hartadji, M.M. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat) beserta keluarga besar; Dr. Asep Kurnia (Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan); Keluarga Besar PT Majmu Musti Sundaya; dan lain-lain.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada bapak/ibu/akang/teteh yang sudah memberikan ucapan selamat dan doa restu untuk anak kami Ulya dan Alva, juga kepada Alinea Catering & Decoration, Noora Poto, dan Marryngonten. Hatur nuhun. Jazakumullahu Khairan Katsiran. Semoga menjadi amal kebaikan bagi semua dan mendapat balasan kebaikan yang luas serta penuh berkah dari Allah SWT. Aamiin,” pungkas Kang Asep Ruslan, haru campur bahagia. (Asep GP)*** Tatarjabar.com July 10, 2026 CB Blogger Indonesia
Pernikahan Putri Tokoh Asep Sedunia Dihadiri Akademisi, Pejabat, dan Tokoh Masyarakat
Disambut Upacara Adat Sunda (Foto: Asep GP) Kabar bahagia datang dari keluarga besar H. Asep Ruslan MS, S.Hut. dan Hj. Sri Arutinawati (alm)...
Friday, June 26, 2026
![]() |
Zona Penentuan Satuan Jarak 500 Meter dari Lokasi Sekolah di DKI Jakarta (Jakut, Jaktim, dan Jakpus). (2026) |
Iklan Rokok Kepung Sekolah di Jakarta menjadi sorotan setelah terungkap bahwa hanya beberapa hari pasca DKI Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-499, ibu kota justru menghadapi fakta memprihatinkan terkait perlindungan hak hidup sehat anak-anaknya. Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) bersama koalisi orang muda merilis temuan spasial terbaru yang mengungkap bahwa 99 persen iklan rokok luar ruang di Jakarta dipasang di dalam radius 500 meter dari sekolah. Kondisi darurat ini secara masif mengepung jalur aktivitas harian pelajar di wilayah Matraman, Tanah Abang, dan Cilincing, sekaligus melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 serta Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2015 yang melarang total reklame rokok luar ruang di ibu kota.
Nalsali Ginting, Peneliti IYCTC, memaparkan pemetaan sebanyak 315 titik iklan rokok pada tiga kecamatan padat penduduk, yaitu Matraman, Tanah Abang, dan Cilincing. “Dari total 315 titik iklan rokok luar ruang yang ditemukan, hampir seluruhnya terletak pada warung-warung dan toko, dengan bentuk iklan mikro seperti banner, spanduk, dan stiker, yang sehari-hari dilewati oleh siswa-siswi di sekitar perumahan dan sekolah mereka. Ada sebanyak 84.551 siswa sekolah di Jakarta yang terpapar promosi rokok secara langsung setiap hari saat mereka pergi ke sekolah,” tegas Nalsali.
Menurut hasil analisisnya, paparan paling masif terjadi pada kelompok usia paling rentan, yaitu siswa SD sebanyak 29.211 anak dan siswa SMP sebanyak 24.176 anak. Kecamatan Matraman menjadi wilayah tingkat pelanggaran terpadat dengan 116 iklan (seluruhnya berada di bawah radius 500 meter dari sekolah) yang mengepung 109 sekolah, atau setara dengan kerapatan 24 iklan per km persegi. Sementara itu, di Tanah Abang ditemukan 102 iklan yang mengepung 104 sekolah, dan di Cilincing terdapat 97 iklan yang memapar hingga 288 sekolah, dengan 123 di antaranya merupakan jenjang TK dan SD.
Kondisi ini diperparah oleh isi visual iklan rokok luar ruang yang dinilai sangat agresif membidik minat kelompok remaja. “Sebanyak 61,8 persen dari total iklan secara terang-terangan memajang harga murah di bawah Rp20.000, 44,1 persen menonjolkan varian rasa buah-buahan yang manis, dan 40,2 persen menggunakan warna visual yang mencolok agar menarik perhatian anak secara instan,” tambah Nalsali. Ia menegaskan bahwa pengosongan zona radius 500 meter dari iklan rokok adalah langkah darurat yang mendesak untuk menyelamatkan anak-anak dari adiksi. Industri rokok secara cerdik menggunakan taktik visual dan penawaran harga yang sesuai dengan isi dompet pelajar demi mengikat konsumen baru.
Temuan ini diperkuat oleh hasil audit sosial dari delegasi Dewan Perwakilan Remaja DKI Jakarta, Mutiara Hasriani, yang mengungkapkan bahwa akses fisik anak-anak terhadap rokok di Jakarta juga sangat terbuka lebar karena 61,2 persen toko ritel dan kelontong di sekitar sekolah secara terang-terangan melanggar aturan zonasi penjualan rokok dekat fasilitas pendidikan. “Paparan iklan yang konstan membuat remaja memiliki risiko 1,67 kali lebih besar untuk menjadi perokok aktif. Sayangnya, pengeluaran rokok ini juga merusak ekonomi rumah tangga berpenghasilan bawah, di mana rata-rata pengeluaran rokok per kapita mencapai Rp111.546 per bulan, angka yang jauh melampaui gabungan belanja daging (Rp19.071) serta telur dan susu (Rp24.983) yang sangat dibutuhkan untuk mencegah stunting pada anak.”
Menyikapi tantangan implementasi ini, Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, mengingatkan bahwa Jakarta sebenarnya adalah inisiator historis yang menginspirasi wilayah lain terkait KTR, dimulai dari dimasukkannya isu rokok dalam regulasi pencemaran udara daerah. “Meskipun proses perumusan Perda KTR DKI ini sangat panjang, jangan sampai hanya bersandar pada hukum tertulis, melainkan membangun sistem pengawasan yang aktif di lapangan. Kita harus memperbanyak replikasi program berbasis komunitas seperti Kampung KTR atau Kampung Bebas Asap Rokok di Jakarta. Jika SDM Satpol PP terbatas, libatkan organisasi orang muda untuk ikut mengawasi dan menindak pelanggaran iklan di tingkat kecamatan,” tambahnya.
Masalah ini mendapat perhatian serius dari pihak legislatif Jakarta. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Francine Widjojo, mengusulkan agar larangan tidak hanya menyasar iklan, melainkan juga menyentuh penjualan produk tembakau dalam radius 500 meter dari sekolah. “Orang muda kita saat ini terlalu sering terpapar promosi rokok karena intensitas tinggi dalam bermain gawai. Penguatan larangan iklan rokok di media sosial tidak kalah penting, lengkap dengan sanksi tegas hingga Rp100 juta untuk meredam pelanggaran,” ujar Francine. Ia juga menekankan agar rokok dilarang keras dijual secara ketengan agar anak sekolah tidak mudah membelinya dengan uang saku terbatas. “Kami meminta peran Satpol PP sebagai penegak perda diperkuat secara signifikan agar operasi penertiban berjalan optimal di lapangan,” tegasnya.
Merespons berbagai desakan tersebut, Intan, Perwakilan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, menegaskan komitmen Pemprov untuk segera menyelesaikan aturan teknis demi menghentikan eksploitasi promosi produk tembakau. Pihaknya mengonfirmasi bahwa draf Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai aturan pelaksana teknis dari Perda Nomor 7 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) saat ini sedang dalam tahap pemantapan akhir dan ditargetkan finalisasi pada minggu depan.
“Data kami mencatat 36 persen siswa SMP dan SMA di Jakarta sudah pernah mencoba merokok, dengan usia inisiasi paling muda dimulai dari umur 7 tahun. Melalui Pergub KTR ini, kami mengunci segala kemungkinan celah industri rokok dalam mempromosikan produknya, termasuk kewajiban menyimpan rokok di tempat tertutup tanpa memperlihatkan logo atau warna merek di ritel, mengenakan denda administratif sesuai tingkat pelanggaran individu, pengelola, atau badan usaha, serta melakukan pembayaran denda nontunai melalui e-wallet atau QRIS yang sistemnya sudah disiapkan oleh BPKD,” papar Intan. Ia menambahkan, karena keterbatasan personel Satpol PP di lapangan, pembentukan Satgas KTR berjenjang perlu melibatkan lintas dinas dan masyarakat, di mana aduan publik kini dapat dengan mudah dilaporkan langsung lewat aplikasi JAKI. Bersamaan dengan itu, Dinkes juga tengah memperluas poliklinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) di puskesmas-puskesmas.
Langkah percepatan aturan di Jakarta ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan RI yang tengah memfasilitasi penentuan kabupaten/kota percontohan KTR nasional. PJ PPAT Direktorat P2PTM Kementerian Kesehatan, Benget Saragih, memaparkan bahwa adiksi rokok sejak usia dini berkontribusi langsung pada beban ganda penyakit kronis di Jakarta, seperti kasus ISPA di puskesmas yang mencapai 641.906 pasien dan hipertensi esensial sebanyak 282.982 pasien.
“Kita tidak bisa terus mendiamkan penyakit ini terus membebani sistem kesehatan hanya karena anak-anak kita terus-menerus dirayu oleh iklan rokok murah di sekitar sekolah. Kami mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk segera mengesahkan Pergub KTR ini agar sejalan dengan amanat perlindungan kesehatan pada PP 28 Tahun 2024, sekaligus memantapkan komitmen Jakarta Bebas Iklan Rokok Luar Ruang menyambut momentum 500 tahun Jakarta pada 2027,” ucap Benget.
Peneliti Senior Seknas FITRA, Gurnadi Ridwan, mengingatkan bahwa pengawasan aturan ini baru akan berjalan efektif jika didukung oleh transparansi anggaran daerah. “DKI Jakarta memang bukan daerah penghasil tembakau, namun kita memiliki potensi fiskal luar biasa karena DKI menduduki peringkat keenam terbesar penerima PRD nasional, mencapai Rp900 miliar pada tahun 2025. Sesuai aturan PRD, ada porsi 5 persen untuk penegakan hukum yang jika dimaksimalkan bisa mengalokasikan anggaran operasional Rp3 hingga Rp4 miliar bagi Satpol PP untuk menertibkan iklan luar ruang, jauh lebih menjanjikan dibanding DBHCHT DKI yang relatif kecil dan sering dianggap transfer umum daerah biasa. KTR harus dipandang sebagai ekosistem anggaran yang utuh, bukan sekadar nama program (nomenklatur), terutama melihat belanja langsung KTR Jakarta yang sangat minim, yakni Rp85 juta pada 2024 dan turun menjadi Rp64 juta pada 2025. Belajar dari efektivitas denda Covid-19 dulu, denda administratif kecil sekitar Rp250 ribu yang dibayar nontunai langsung di tempat justru jauh lebih efektif mendisiplinkan publik dibanding denda besar yang kerap dibebaskan saat sidang yustisi. Sebagai calon kota global, Jakarta harus menjadi role model tanpa pemandangan orang merokok sembarangan,” pungkas Adi Gunadi.
Hasil lengkap penelitian dapat diakses melalui tautan berikut ini: https://bit.ly/RisetIYCTC-DKIJakarta.
Tentang Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC): Koalisi kaum muda dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengendalian zat adiktif berupa produk tembakau di Indonesia dengan pendekatan yang inklusif dan bermakna. Nama IYCTC mengalami penyesuaian pada tahun 2023, yang sebelumnya dikenal dengan Dewan Muda Indonesia untuk Pengendalian Tembakau [Indonesian Youth Council for Tobacco Control – IYCTC] yang telah disepakati dan terbentuk pada 20 Februari 2021, melalui musyawarah virtual yang dihadiri 50 perwakilan kaum muda sekaligus penggagas IYCTC dari 45 organisasi/komunitas dari 28 kabupaten/kota se-Indonesia.
Kontak: iyctc.id@gmail.com
Website: www.iyctc.id || Instagram dan TikTok: @iyctc.id || Twitter: @iyctc_id || YouTube: https://www.youtube.com/@iyctc8467.
Tentang Koalisi Save Our Surroundings: Koalisi Save Our Surroundings (SOS) merupakan gerakan organik yang melibatkan lebih dari 3.000 anggota dari berbagai latar belakang, yang berkomitmen pada pengendalian konsumsi rokok dan terciptanya lingkungan serta masyarakat yang lebih sehat. SOS mengusung delapan pilar fokus isu, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, hak asasi manusia, kebijakan publik, budaya sosial baru, serta perlindungan hak anak. Melalui pendekatan kolaboratif, kreatif, dan partisipatif, Koalisi SOS berkomitmen untuk mendorong penguatan kebijakan untuk gaya hidup sehat serta membangun kesadaran publik akan pentingnya ruang hidup yang bersih dan sehat. Koalisi ini mengajak para pembuat kebijakan dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, berdaya, dan terlindungi dari dampak konsumsi rokok.
(Asep GP)*** Tatarjabar.com June 26, 2026 CB Blogger Indonesia
Iklan Rokok Kepung Sekolah di Jakarta, Pemprov DKI Kejar Finalisasi Pergub KTR
Zona Penentuan Satuan Jarak 500 Meter dari Lokasi Sekolah di DKI Jakarta (Jakut, Jaktim, dan Jakpus). (2026) Iklan Rokok Kepung Sekolah di J...
![]() |
| Panitia dan para calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Periode 2026–2030. (Foto: Asep GP) |
Musyawarah Kota dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung 2026–2030 akhirnya mencapai tahap penetapan calon Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung, setelah para calon ketua mengembalikan formulir pendaftaran yang terakhir ditutup pada Rabu, 24 Juni 2026, di Bale Alumni, Jl. Dipatiukur No. 35, Bandung.
Dari 6 (enam) peminat, ada 4 (empat) calon yang akhirnya mengembalikan formulir sebagai calon Ketua IKA Unpad Pengurus Kota Bandung.
![]() |
| Dicky Wishnumulya Ristandi menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. (Foto: Asep GP) |
Semua calon ketua yang mengembalikan formulir kemudian terverifikasi secara administratif sehingga langsung dilakukan pengundian nomor urut, dan hasilnya berdasarkan nomor urut berikut:
Tatarjabar.com
June 26, 2026
CB Blogger
Indonesia- Dicky Wishnumulya Ristandi / Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) 1994
- M. Bayu Wardiansyah / Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) 2005
- Agung Firmansyah Sumantri / Fakultas Kedokteran (FK) 2000
- Ikhsan Tanuwijaya / FISIP 2005.
![]() |
| Bayu Wardiansyah (kiri, baju putih) menyerahkan formulir pendaftaran. (Foto: Asep GP) |
Agung Firmansyah dalam visi-misinya menyampaikan, IKA Unpad Pengkot Bandung harus jadi wadah ikatan alumni yang bisa berkolaborasi dengan tiap angkatan, lintas fakultas, lintas generasi, untuk maju bersama, berkembang aktif untuk almamater dan Kota Bandung yang kita cintai.
Agung juga ingin menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung karena "Unpad adalah Bandung, Bandung adalah Unpad". Untuk itulah dia berharap dalam membangun sebuah kota kita harus bekerja secara keseluruhan, bekerja secara pentahelix, pendekatan kolaboratif menyatukan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas/masyarakat, dan media.
"Kita harus memunculkan ide-ide baru untuk Kota Bandung yang kita cintai dan tentunya IKA Unpad Pengkot Kota Bandung ini harus jadi corong, jadi yang terdepan untuk IKA Pengkot-Pengkot lainnya. Semoga apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan diridai Allah," ujarnya.
Agung juga ingin menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung karena "Unpad adalah Bandung, Bandung adalah Unpad". Untuk itulah dia berharap dalam membangun sebuah kota kita harus bekerja secara keseluruhan, bekerja secara pentahelix, pendekatan kolaboratif menyatukan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas/masyarakat, dan media.
"Kita harus memunculkan ide-ide baru untuk Kota Bandung yang kita cintai dan tentunya IKA Unpad Pengkot Kota Bandung ini harus jadi corong, jadi yang terdepan untuk IKA Pengkot-Pengkot lainnya. Semoga apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan diridai Allah," ujarnya.
![]() |
| Agung Firmansyah Sumantri: IKA Unpad menjadi wadah besar untuk berkontribusi kepada Kota Bandung. (Foto: Asep GP) |
Senada dengan hal itu, calon ketua lainnya, Bayu Wardiansyah, kepada wartawan mengatakan, akan menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung ini menjadi wadah alumni Unpad yang ada di Kota Bandung agar bisa berkolaborasi, berdaya, dan tumbuh bersama, bisa memberikan dampak untuk Kota Bandung, almamater, dan alumni sendiri.
Demikian juga dengan Dicky Wishnumulya, ia punya visi menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung sebagai gerakan yang solid, terbuka, dan berdampak nyata bagi anak muda melalui kolaborasi sederhana, dekat, dan berkelanjutan.
Misinya, menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. Menciptakan program nyata yang langsung dirasakan anak muda dan masyarakat. Mendorong pertumbuhan ekonomi alumni melalui digitalisasi dan UMKM.
Menjadikan IKA Unpad ruang terbuka yang hangat, santai, dan produktif, yaitu menghadirkan gerakan sosial dan lingkungan sederhana, tetapi berdampak besar.
Adapun program kerja unggulan yang pertama adalah Alumni on Class; kedua, Manis Dikurangi, gerakan hidup sehat, konsepnya kampanye hidup sehat dan kurangi gula berlebih; ketiga, Alumni Base Camp – sekretariat dan café kolaborasi alumni, konsepnya ruang nongkrong UMKM dan diskusi tanpa sekat; keempat, Alumni Market Hub, digitalisasi UMKM alumni dengan konsep guyub digital untuk ekonomi alumni; kelima, Ngopi Tanpa Sekat, yaitu alumni ngobrol rutin, konsep ngopi santai lintas angkatan; dan keenam, Alumni Green Action – gerakan lingkungan alumni, konsepnya aksi lingkungan sederhana tetapi konsisten, taglinenya "Gerak Kecil Dampak Besar – Alumni Hijau, Bumi Lebih Maju", fokusnya bersih lingkungan, kurangi sampah plastik, dan aksi sosial hijau di Kota Bandung.
Ketua SC (Steering Committee) Musyawarah Kota, Adang Muhammad Tsaury, berharap visi-misi para calon ketua ini bukan hanya lips service, tetapi bagaimana menjalankan visi-misi tersebut dengan baik.
Demikian juga dengan Dicky Wishnumulya, ia punya visi menjadikan IKA Unpad Pengkot Bandung sebagai gerakan yang solid, terbuka, dan berdampak nyata bagi anak muda melalui kolaborasi sederhana, dekat, dan berkelanjutan.
Misinya, menguatkan koneksi alumni lintas generasi berbasis kolaborasi, bukan bersekat jabatan. Menciptakan program nyata yang langsung dirasakan anak muda dan masyarakat. Mendorong pertumbuhan ekonomi alumni melalui digitalisasi dan UMKM.
Menjadikan IKA Unpad ruang terbuka yang hangat, santai, dan produktif, yaitu menghadirkan gerakan sosial dan lingkungan sederhana, tetapi berdampak besar.
Adapun program kerja unggulan yang pertama adalah Alumni on Class; kedua, Manis Dikurangi, gerakan hidup sehat, konsepnya kampanye hidup sehat dan kurangi gula berlebih; ketiga, Alumni Base Camp – sekretariat dan café kolaborasi alumni, konsepnya ruang nongkrong UMKM dan diskusi tanpa sekat; keempat, Alumni Market Hub, digitalisasi UMKM alumni dengan konsep guyub digital untuk ekonomi alumni; kelima, Ngopi Tanpa Sekat, yaitu alumni ngobrol rutin, konsep ngopi santai lintas angkatan; dan keenam, Alumni Green Action – gerakan lingkungan alumni, konsepnya aksi lingkungan sederhana tetapi konsisten, taglinenya "Gerak Kecil Dampak Besar – Alumni Hijau, Bumi Lebih Maju", fokusnya bersih lingkungan, kurangi sampah plastik, dan aksi sosial hijau di Kota Bandung.
Ketua SC (Steering Committee) Musyawarah Kota, Adang Muhammad Tsaury, berharap visi-misi para calon ketua ini bukan hanya lips service, tetapi bagaimana menjalankan visi-misi tersebut dengan baik.
![]() |
| Sekjen IKA Unpad Pusat, Yhodisman Soratha: Harus ramai, tetapi tetap guyub. (Foto: Asep GP) |
Adang juga berharap sama, IKA Unpad Pengkot Bandung ada sinergitas dengan Pemkot Bandung. Sebab, kata dia, karena Unpad adalah Bandung dan Bandung adalah Unpad. Maka Bandung dan Unpad harus sama-sama ngapung ka jomantara.
"Ke depannya IKA Pengkot Kota Bandung harus ada sinergi dengan Pemkot Bandung karena kebetulan wali kotanya dari Unpad juga. Jadi artinya kita bisa sinergi dengan pekerjaan yang dilakukan Pemkot Bandung. Sekarang alumni Unpad yang ada di Kota Bandung ini ada puluhan ribu dan sudah tersaring 1.500 di kedinasan dan lainnya di Pemkot Bandung," kata Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan Baznas Kota Bandung yang baru saja dilantik wali kota.
Adang yang juga sangat mengapresiasi proses pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini berjalan baik dan berbeda dengan tahun sebelumnya. "Kalau menilik pemilihan tahun sebelumnya tidak ada kekuatan seperti sekarang ini. Nah, semoga ini menjadi role model untuk daerah lain. Semoga IKA Unpad Pengkot Bandung punya marwah yang bagus untuk kita semua," harapnya.
Zakky Faisal, Ketua OC (Organizing Committee) untuk Muskot dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung, berharap empat calon ini bisa berkompetisi dengan baik, sehat, dan ketua terpilih nanti bisa berkolaborasi dengan Unpad serta ikut membangun Kota Bandung.
Zakky juga mengatakan, "Mohon dukungan semua teman alumni yang berada di Kota Bandung untuk menyukseskan acara. Semoga ini bisa memperbesar silaturahmi kita dan bersinergi ke depannya," katanya sambil mengumumkan jadwal ke depannya. Setelah penetapan calon ini, rencananya akan ada debat kandidat atau diskusi di salah satu stasiun TV swasta pada 6 Juli 2026.
"Ke depannya IKA Pengkot Kota Bandung harus ada sinergi dengan Pemkot Bandung karena kebetulan wali kotanya dari Unpad juga. Jadi artinya kita bisa sinergi dengan pekerjaan yang dilakukan Pemkot Bandung. Sekarang alumni Unpad yang ada di Kota Bandung ini ada puluhan ribu dan sudah tersaring 1.500 di kedinasan dan lainnya di Pemkot Bandung," kata Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan Baznas Kota Bandung yang baru saja dilantik wali kota.
Adang yang juga sangat mengapresiasi proses pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini berjalan baik dan berbeda dengan tahun sebelumnya. "Kalau menilik pemilihan tahun sebelumnya tidak ada kekuatan seperti sekarang ini. Nah, semoga ini menjadi role model untuk daerah lain. Semoga IKA Unpad Pengkot Bandung punya marwah yang bagus untuk kita semua," harapnya.
Zakky Faisal, Ketua OC (Organizing Committee) untuk Muskot dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung, berharap empat calon ini bisa berkompetisi dengan baik, sehat, dan ketua terpilih nanti bisa berkolaborasi dengan Unpad serta ikut membangun Kota Bandung.
Zakky juga mengatakan, "Mohon dukungan semua teman alumni yang berada di Kota Bandung untuk menyukseskan acara. Semoga ini bisa memperbesar silaturahmi kita dan bersinergi ke depannya," katanya sambil mengumumkan jadwal ke depannya. Setelah penetapan calon ini, rencananya akan ada debat kandidat atau diskusi di salah satu stasiun TV swasta pada 6 Juli 2026.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Tentu saja Sekjen IKA Unpad Pusat, Yhodisman Soratha, menyambut baik proses rutin ini. Setiap kepengurusan ada periodisasinya, katanya. Oleh karena itu, mewakili pengurus pusat, ia berharap proses pemilihan IKA Unpad Pengkot Bandung berjalan ramai tetapi guyub dan melahirkan ketua yang bisa diterima oleh banyak kelompok, banyak pihak, atau para alumni, khususnya di Kota Bandung.
Kang Odis juga berharap Pengkot Bandung ini jadi pemersatu karena menurutnya bagaimanapun Bandung ini parameternya Unpad, bisa dikatakan ibu kotanya Pajajaran, walau sekarang sudah pindah ke Sumedang (Jatinangor).
Dan alumni Unpad harus berkiprah di mana pun mereka berada. Kontribusinya bukan hanya ke pemerintah saja, tetapi ke masyarakat juga. "Nah, kebetulan kan seingat saya banyak alumni kita yang berkiprah di pemerintahan di Kota Bandung, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Buat saya dengan sendirinya mereka harus punya kontribusi positif di bidangnya masing-masing. Kalau dari calon yang empat ini ada yang dari bisnis atau pegiat sosial, itu kan juga harus berkontribusi pada bidang pilihannya masing-masing," katanya.
Jadi intinya, kata Kang Odis, Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini, pertama, harus ramai tetapi tetap menjaga keguyuban. Kedua, bisa menghasilkan ketua yang bisa mengayomi semua karena alumni Unpad di Bandung banyak sekali. Ketiga, ada kontribusi nyata empat tahun ke depan setelah terpilih, baik ke pemerintahan maupun ke masyarakat. "Dan jangan lupa kudu mulang tarima ka kampus, ka almamater tercinta," pungkasnya. (Asep GP)***
Kang Odis juga berharap Pengkot Bandung ini jadi pemersatu karena menurutnya bagaimanapun Bandung ini parameternya Unpad, bisa dikatakan ibu kotanya Pajajaran, walau sekarang sudah pindah ke Sumedang (Jatinangor).
Dan alumni Unpad harus berkiprah di mana pun mereka berada. Kontribusinya bukan hanya ke pemerintah saja, tetapi ke masyarakat juga. "Nah, kebetulan kan seingat saya banyak alumni kita yang berkiprah di pemerintahan di Kota Bandung, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Buat saya dengan sendirinya mereka harus punya kontribusi positif di bidangnya masing-masing. Kalau dari calon yang empat ini ada yang dari bisnis atau pegiat sosial, itu kan juga harus berkontribusi pada bidang pilihannya masing-masing," katanya.
Jadi intinya, kata Kang Odis, Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung ini, pertama, harus ramai tetapi tetap menjaga keguyuban. Kedua, bisa menghasilkan ketua yang bisa mengayomi semua karena alumni Unpad di Bandung banyak sekali. Ketiga, ada kontribusi nyata empat tahun ke depan setelah terpilih, baik ke pemerintahan maupun ke masyarakat. "Dan jangan lupa kudu mulang tarima ka kampus, ka almamater tercinta," pungkasnya. (Asep GP)***
Panitia Pemilihan Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Tetapkan 4 Calon Ketua: Para Calon Ketua Siap Berkontribusi pada Kampus, Masyarakat, dan Pemerintah Kota Bandung
Panitia dan para calon Ketua IKA Unpad Pengkot Bandung Periode 2026–2030. (Foto: Asep GP ) Musyawarah Kota dan Pemilihan Ketua IKA Unpad Pen...
Saturday, June 13, 2026
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebagai proyek Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda Tahun Akademik 2025/2026, dengan dosen pengampu: Dr. Undang Ahmad Darsa, M.Hum., Dr. Taufik Ampera, M.Hum., Dr. Teddi Muhtadin, M.Hum., Dr. Asep Yusup Hudayat, M.A., Rahmat Sopian, M.Hum., Ph.D., Dr. Asri Soraya Afsari, M.Hum., dan Dr. Taufik Rahayu, M.Hum. Kegiatan Festival Budaya Maritim dilaksanakan pada hari Jumat, 5 Juni 2026, di Lapang Parkir Gedung A FIB Unpad, diikuti oleh mahasiswa dari sembilan program studi S-1 yang secara kolaboratif menampilkan berbagai karya dan pertunjukan bertema budaya maritim.
Festival ini menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari karnaval budaya, pameran karya mahasiswa, pertunjukan seni, pemutaran video dokumenter, video kreatif, hingga peragaan busana yang mengangkat kekayaan budaya maritim Nusantara. Melalui berbagai media ekspresi tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Sunda dalam konteks kebudayaan maritim Indonesia yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, identitas, dan peradaban bangsa.
Karnaval budaya menjadi salah satu atraksi yang menampilkan kreativitas mahasiswa dalam mengemas simbol-simbol budaya maritim ke dalam berbagai bentuk visual dan pertunjukan. Sementara itu, pameran karya dan pemutaran video dokumenter memperlihatkan hasil kajian mahasiswa mengenai jejak budaya maritim, tradisi pesisir, teknologi pelayaran tradisional, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih hidup di berbagai daerah di Indonesia.
Tidak kalah menarik, pertunjukan seni dan peragaan busana menghadirkan interpretasi kreatif mahasiswa terhadap warisan budaya maritim melalui seni pertunjukan, musik, tari, serta desain busana yang terinspirasi oleh kehidupan masyarakat pesisir dan pelaut Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mengintegrasikan aspek akademik, penelitian sederhana, kreativitas, dan kerja sama lintas program studi.
Koordinator Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Taufik Ampera, M.Hum., menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis proyek yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh di kelas ke dalam karya nyata.
“Melalui Festival Budaya Maritim ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kebudayaan secara teoritis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Tema budaya maritim dipilih karena Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan budaya luar biasa dan perlu terus dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Taufik Ampera menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.
“Kami berharap mahasiswa mampu memahami bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa pembelajaran kebudayaan dapat dikemas secara inovatif, menarik, dan relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan Festival Budaya Maritim, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran berharap dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai keberagaman budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya bangsa. Festival ini juga menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang memberikan kontribusi bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia, khususnya Pemajuan Kebudayaan Daerah. (Asep GP)***
Festival Budaya Maritim Meriahkan Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Kebudayaan Sunda
Bandung – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menggelar Festival Budaya Maritim: Jejak Budaya Maritim Warisan Dunia sebag...
Acara Pelepasan (Kelulusan & Perayaan/Samen) kelas 6 SDN 154 Citepus Bandung ini digelar pada Rabu, (10/6/2026) di pelataran sekolah, Jl. Citepus III/Astana Eyang RT 07/RW 10 Kel. Pajajaran, Kec. Cicendo, Kota Bandung, dengan tajuk “Melesat Maju Menuju Masa Depan.”
Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Sekolah SDN 154 Citepus, Evi Lativah, S.Pd., M.M., dan Rida Indriawaty, S.Pd., M.Si. (Pengawas Bina), serta jajaran guru, karyawan, dan para orang tua murid.
Acara diisi dengan penampilan tari, sungkeman peserta didik kelas 6, pemberian mawar kepada orang tua dari peserta didik, pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi, pemberian buket bunga kepada guru, serta menyanyikan lagu “Pileuleuyan” dan “Saat Kau Telah Mengerti.”
Kepala Sekolah SDN 154 Citepus, Evi Lativah (50), usai acara menitipkan pesan kepada wartawan untuk para siswa kelas 6 yang baru saja lulus dan akan meneruskan sekolah ke tingkat SMP, agar senantiasa menjaga karakter/tabiat, berperilaku baik di mana pun berada. “Karakter itu paling utama,” katanya.
“Sebab tanpa karakter anak sekarang akan kehilangan arah. Prestasi itu bisa dikejar, tapi kalau pembentukan karakter yang baik susah diraih,” kata Bu Kepala.
Apalagi di zaman yang tidak baik-baik saja seperti sekarang, di tengah derasnya arus informasi global dan serba digital, demam medsos yang tidak bisa dicegah, karakter anak kian tersingkirkan. Di satu sisi, anak memang butuh media sosial (internet) untuk menambah pengetahuannya, tapi di sisi lain banyak unsur negatifnya, banyak tontonan yang akan merusak moral generasi muda, mengubah tabiat jadi tidak baik. Jadi ini jelas membutuhkan bimbingan dan pendampingan serius orang tua.
“Jadi jangan senang dulu kalau melihat anak aranteng (asyik) bermain hape (gadget), sebab kita tidak tahu apa yang mereka lihat, tonton, dan kerjakan. Apakah akan mencerdaskan atau menjerumuskan ke hal yang negatif,” kata Evi, serius.
Lingkungan dan keluarga juga sangat memengaruhi karakter anak. Kalau anak bergaul dengan orang yang tidak baik, atau lingkungan sekitarnya kurang baik, tentu anak juga bakal bergajulan. Demikian juga kalau lingkungan keluarganya kurang harmonis, akan memengaruhi tabiat dan karakternya.
“Jadi yang lebih utama, harus dididik secara baik di rumah oleh orang tuanya. Jangan sampai anak ditekan, dididik keras, tapi orang tuanya sendiri tidak menjadi contoh baik bagi anaknya,” tegas Bu Evi.
Lingkungan dan keluarga juga sangat memengaruhi karakter anak. Kalau anak bergaul dengan orang yang tidak baik, atau lingkungan sekitarnya kurang baik, tentu anak juga bakal bergajulan. Demikian juga kalau lingkungan keluarganya kurang harmonis, akan memengaruhi tabiat dan karakternya.
“Jadi yang lebih utama, harus dididik secara baik di rumah oleh orang tuanya. Jangan sampai anak ditekan, dididik keras, tapi orang tuanya sendiri tidak menjadi contoh baik bagi anaknya,” tegas Bu Evi.
Ibu Kepala berharap para orang tua lebih serius lagi mendidik putra-putrinya. Zaman sekarang, baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama susah dibentuk karakternya, harus benar-benar sabar dan paham. Contohnya ketika upacara bendera di hari Senin, anak-anak asyik ngobrol ketika pembina upacara memberi wejangan, begitu juga ketika berdoa. Jadi anak perlu dididik kedisiplinan dari hal-hal kecil dulu agar jadi kebiasaan yang baik.
“Ya semoga saja putra-putri ibu semua jadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, dan sukses dunia-akhirat,” demikian harapan dan doa Ibu Kepala.
Akan Menambah Sarana–Prasarana Sekolah, Ekskul & Kompetensi Guru
Tatarjabar.com
June 13, 2026
CB Blogger
Indonesia“Ya semoga saja putra-putri ibu semua jadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, dan sukses dunia-akhirat,” demikian harapan dan doa Ibu Kepala.
Akan Menambah Sarana–Prasarana Sekolah, Ekskul & Kompetensi Guru
Evi Lativah yang ditugaskan tanggal 1 April 2026 memimpin SDN 154 Citepus, akan berusaha menata sekolah yang dipimpinnya ke arah lebih baik lagi.
Program ke depannya lebih ke pembentukan karakter dan menambah serta mengaktifkan kembali program ekstrakurikuler (ekskul) supaya siswa menjurus ke jalur prestasi, menjadi peserta lomba/kejuaraan yang akan membawa nama harum sekolah. Selain itu meningkatkan kompetensi guru-gurunya, menambah ilmu pengetahuan yang relevan dengan zaman, serta meningkatkan disiplin guru dan siswa.
Selain itu, Evi yang puluhan tahun jadi guru di SD Cipto, akan menambah dan mengembangkan sarana-prasarana sekolah. Ia prihatin melihat keadaan sekolah yang puluhan tahun pernah dikunjunginya tatkala mengawas Ebtanas, hingga sekarang tidak berubah sarana dan prasarananya. Hal itu ia buktikan sebagai gerakan awal dengan memperbaiki lantai halaman sekolah (dipelur). Itu juga hasil sumbangan (rereongan door to door ketika rapat) dari orang tua siswa kelas 6.
Selain itu, Evi yang puluhan tahun jadi guru di SD Cipto, akan menambah dan mengembangkan sarana-prasarana sekolah. Ia prihatin melihat keadaan sekolah yang puluhan tahun pernah dikunjunginya tatkala mengawas Ebtanas, hingga sekarang tidak berubah sarana dan prasarananya. Hal itu ia buktikan sebagai gerakan awal dengan memperbaiki lantai halaman sekolah (dipelur). Itu juga hasil sumbangan (rereongan door to door ketika rapat) dari orang tua siswa kelas 6.
Oleh karena itu, lulusan PGSD UPI tahun 1999 ini meminta kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung, “Saya ingin mengajukan ruangan kelas yang baru dan merehab kelas yang sudah ada, sebab atapnya bocor dan kayu kusennya sudah keropos. Khawatir roboh menimpa siswa yang sedang belajar, seperti kejadian di sekolah lainnya. Kalau sarana-prasarana sekolah bagus dan lengkap, tentu para siswa, penerus bangsa, dan gurunya juga akan nyaman belajarnya. Kalau saya lihat sekarang, keadaannya memprihatinkan,” demikian kata Kepala Sekolah yang sebelumnya mengajar puluhan tahun di SDN 016 Dr. Cipto Pajajaran Bandung (Maret 2000–1 Maret 2023) dan tiga tahun memimpin SDN 123 Babakan Priangan Bandung (1 Maret 2023–2026). (Asep GP)***
Graduation Day & Celebration Kelas 6 SDN 154 Citepus 2025/2026
Acara Pelepasan (Kelulusan & Perayaan/Samen) kelas 6 SDN 154 Citepus Bandung ini digelar pada Rabu, (10/6/2026) di pelataran sekolah, Jl...
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)


















































