Saturday, January 31, 2026
![]() |
| All Talent Drama Musikal Natal “Cahaya Hati” Sekolah Santo Aloysius Bandung |
Sutradara Ronaldo Ruzali mengangkat makna Natal melalui Drama Musikal Natal "Cahaya Hati" bertajuk "Menyalakan Kepedulian di Tengah Kegelapan Hati", yang diproduksi oleh Sekolah Santo Aloysius Bandung. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Aula Henricus, Sekolah Santo Aloysius Bandung, Jalan Sultan Agung No. 4, Kota Bandung.
Drama musikal ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali makna Natal di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi kesibukan, individualisme, dan ketergantungan pada dunia digital. Mengusung semangat menyalakan harapan dan menggerakkan kepedulian, Cahaya Hati hadir sebagai ruang refleksi sekaligus ajakan untuk membangkitkan nilai kasih, empati, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui tema besar "Menyalakan Kepedulian di Tengah Kegelapan Hati", Cahaya Hati memaknai Natal bukan hanya sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai momentum kebangkitan rohani. Cahaya Hati melambangkan terang kebaikan dan kasih Kristus yang datang dari Timur—simbol harapan baru, awal kehidupan, dan kebangkitan. Kisah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang terjebak dalam kegelapan batin, sekaligus menghadirkan harapan melalui tindakan-tindakan sederhana yang lahir dari ketulusan.
Ketua Yayasan Mardiwijana Bandung–Satya Winaya, Dr. Sherly Iliana, Ir., M.M., menyampaikan bahwa Cahaya Hati tidak sekadar menjadi sebuah pertunjukan seni: “Cahaya Hati bukan sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan sebuah ruang hening, ruang di mana cahaya tidak datang dari lampu panggung, tetapi dari hati yang mau mendengar dan merasakan. Terang sejati tidak selalu lahir dari kegembiraan, tetapi sering tumbuh dari kehilangan, luka, dan keheningan yang mengajak manusia bertanya tentang makna hidup yang sesungguhnya,” ujarnya.
“Drama musikal ini melibatkan kolaborasi berbagai bidang seni yang dipersembahkan oleh para siswa Sekolah Santo Aloysius Bandung, meliputi seni teater, tari, musik, paduan suara, angklung, serta marching band. Perpaduan unsur-unsur seni tersebut menjadi medium penyampaian pesan kasih, persatuan, dan kepedulian secara kreatif dan menyentuh,” jelas Ronaldo Ruzali.
Melalui karya ini, Sekolah Santo Aloysius Bandung menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis seni dan nilai kemanusiaan. Drama Musikal Natal Cahaya Hati diharapkan dapat menginspirasi masyarakat bahwa setiap individu memiliki peran untuk menjadi terang bagi sesama dan lingkungannya.
Sebagai sutradara dan salah satu koreografer Drama Musikal Natal "Cahaya Hati", Ronaldo Ruzali menegaskan bahwa perayaan Natal bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan sebuah ajakan untuk merenung, bangkit, dan menyalakan harapan serta menggerakkan kepedulian melalui aksi nyata yang penuh makna dan iman, dalam balutan panggung yang spektakuler.
Pada kesempatan ini, Ronaldo Ruzali juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ketua Yayasan Mardiwijana Bandung–Satya Winaya, panitia pagelaran drama musikal Cahaya Hati, Ibu dan Bapak guru, para pelatih dan pendamping, serta seluruh siswa yang terlibat. Berkat semangat berproses, dedikasi, ketulusan, dan kerja sama yang penuh kasih, karya ini dapat terwujud dan menjadi berkat bagi banyak hati.
“Terima kasih untuk semuanya, Ad Maiora Natus Sum,” pungkas Sarjana Seni lulusan Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung (2018). Ronaldo juga pada tahun 2022 menjabat sebagai Ketua Komite Seni Tari Dewan Kesenian Kota Bandung (DKKB) dan hingga kini masih tergabung di dalamnya. (Asep GP)***
Tatarjabar.com
January 31, 2026
CB Blogger
IndonesiaSebagai sutradara dan salah satu koreografer Drama Musikal Natal "Cahaya Hati", Ronaldo Ruzali menegaskan bahwa perayaan Natal bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan sebuah ajakan untuk merenung, bangkit, dan menyalakan harapan serta menggerakkan kepedulian melalui aksi nyata yang penuh makna dan iman, dalam balutan panggung yang spektakuler.
Pada kesempatan ini, Ronaldo Ruzali juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ketua Yayasan Mardiwijana Bandung–Satya Winaya, panitia pagelaran drama musikal Cahaya Hati, Ibu dan Bapak guru, para pelatih dan pendamping, serta seluruh siswa yang terlibat. Berkat semangat berproses, dedikasi, ketulusan, dan kerja sama yang penuh kasih, karya ini dapat terwujud dan menjadi berkat bagi banyak hati.
“Terima kasih untuk semuanya, Ad Maiora Natus Sum,” pungkas Sarjana Seni lulusan Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung (2018). Ronaldo juga pada tahun 2022 menjabat sebagai Ketua Komite Seni Tari Dewan Kesenian Kota Bandung (DKKB) dan hingga kini masih tergabung di dalamnya. (Asep GP)***
Ronaldo Ruzali Angkat Makna Natal Lewat Drama Musikal Cahaya Hati, Nyalakan Harapan dan Kepedulian
All Talent Drama Musikal Natal “Cahaya Hati” Sekolah Santo Aloysius Bandung Sutradara Ronaldo Ruzali mengangkat makna Natal melalui Drama Mu...
Friday, January 30, 2026
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Acara yang digelar pada Sabtu (24/1) di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Jl. Dipatiukur No. 35 Bandung ini adalah salah satu wujud nyata komitmen Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA UNPAD) memberdayakan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kewirausahaan produktif ASN dan para purnabakti alumni UNPAD, menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kemandirian finansial.
Seminar ini menghadirkan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Menteri Koperasi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Wali Kota Bandung, serta Ketua Dewan Pembina IKA UNPAD. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UNPAD yang diwakili Direktur Kemitraan dan Kerja Sama Alumni, Tomy Perdana.
![]() |
| Menkop Ferry Juliantono hadir di "Seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneur dan Bisnis" IKA UNPAD di Graha Sanusi Hardjadinata UNPAD, Bandung (24/01/2026). (Foto: Asep GP) |
Ketua Steering Committee, Rena Latsmi Puri, dalam laporannya menjelaskan, kegiatan ini diprakarsai oleh Center for Strategic and Analysis IKA UNPAD, salah satu badan di bawah kepengurusan IKA UNPAD. Menurut Rena, seminar ini bertujuan membuka wawasan bagi pensiunan ASN dan karyawan menjelang pensiun, membantu mereka menghadapi potensi penurunan penghasilan, sekaligus memberi inspirasi melalui entrepreneurship dan bisnis sebagai jalan menuju kebebasan finansial.
Sesi pembukaan menghadirkan sambutan Ketua Dewan Penasihat IKA UNPAD, Omay K. Wiratmadja, dan Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E., yang menekankan pentingnya literasi keuangan bagi kelompok kelas menengah, termasuk ASN. Menurutnya, tanpa pemahaman dan perencanaan keuangan yang matang, masa pensiun berpotensi menimbulkan kerentanan finansial.
Sesi pembukaan menghadirkan sambutan Ketua Dewan Penasihat IKA UNPAD, Omay K. Wiratmadja, dan Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E., yang menekankan pentingnya literasi keuangan bagi kelompok kelas menengah, termasuk ASN. Menurutnya, tanpa pemahaman dan perencanaan keuangan yang matang, masa pensiun berpotensi menimbulkan kerentanan finansial.
![]() |
| Menteri PANRB, Rini Widyantini menjadi keynote speaker dalam "Seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneur dan Bisnis" IKA UNPAD (Foto: Asep GP) |
Untuk itulah ia mengingatkan agar pandai-pandai mengelola tabungan agar tidak boros dan langsung habis, serta bisa memberi warisan finansial bagi generasi berikutnya. Ia menyarankan agar terus produktif walau produktivitas seseorang ada batasnya. Untuk itulah perlu strategi agar tetap bertahan secara ekonomi. “Panjang umur belum tentu produktif. Produktivitas inilah yang mesti kita incar. Kadang-kadang memang kita harus menciptakan kolam-kolam untuk mendapatkan ikan bagi kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Farhan yang juga alumni Fakultas Ekonomi UNPAD berharap “Seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneur dan Bisnis IKA UNPAD” ini dapat menjadi ruang pembelajaran bersama, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dikaji dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Bandung, termasuk untuk edukasi calon aparatur sipil negara yang memasuki masa pensiun.
Farhan yang juga alumni Fakultas Ekonomi UNPAD berharap “Seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneur dan Bisnis IKA UNPAD” ini dapat menjadi ruang pembelajaran bersama, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dikaji dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Bandung, termasuk untuk edukasi calon aparatur sipil negara yang memasuki masa pensiun.
![]() |
| Menteri PANRB, Rini Widyantini, mempersiapkan kegiatan masa purnabakti sejak dini (Foto: Asep GP) |
Keynote speech disampaikan oleh Menteri PANRB, Rini Widyantini, S.H., MPM, yang menegaskan pentingnya persiapan masa purnabakti sejak dini agar ASN tetap produktif dan berdaya guna bagi masyarakat. Masa purnabakti ASN bukanlah fase berhenti berkontribusi, tetapi fase keberlanjutan kontribusi. Masa peralihan peran ini menurutnya harus dipersiapkan secara matang dan terencana. Masih banyak ASN yang memasuki masa pensiun tetapi masih bisa produktif, berpengalaman, serta memiliki jejaring yang kuat, sehingga punya potensi besar untuk berkontribusi dan berdampak pada aktivitas ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan. Demikian kata Bu Menteri.
Selanjutnya, Ketua Dewan Pembina IKA UNPAD, Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A., menekankan bahwa kewirausahaan menjadi faktor kunci pertumbuhan ekonomi nasional dan perlunya jutaan entrepreneur baru untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Selanjutnya, Ketua Dewan Pembina IKA UNPAD, Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A., menekankan bahwa kewirausahaan menjadi faktor kunci pertumbuhan ekonomi nasional dan perlunya jutaan entrepreneur baru untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
![]() |
| Menkop, Ferry Juliantono (tengah, berpeci), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi alternatif penciptaan lapangan kerja (Foto: Asep GP) |
Diskusi panel pertama menghadirkan tokoh pemerintahan, sektor keuangan, dan pengusaha. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Dr. Ir. H. Afriansyah Noor, M.Si., IPU, menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong perluasan kewirausahaan melalui program Tenaga Kerja Mandiri dan Talent Innovation Hub, untuk mendukung pengembangan usaha, peningkatan kapasitas talenta, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Turut hadir Ronny Venir (BNI), Tribuna Phitera Djaja (PT Taspen), Ir. Ellyus Achiruddin, MMA (Preskom PT Triputra Utama Selaras), Agus B. Yanuar (CEO PT Samuel Aset Manajemen), dan Dr. Irfan Aulia Syaiful, M.Psi. (Ketua IKA Psikologi UNPAD) yang membahas akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), program pendampingan wirausaha, strategi membangun usaha berkelanjutan, serta kesiapan mental menghadapi risiko dalam berbisnis.
Sesi kedua menampilkan Menteri Koperasi sekaligus Ketua Umum IKA UNPAD, Dr. Ferry J. Juliantono, S.E., Ak., M.Si., yang menyoroti peran koperasi sebagai wadah ekonomi inklusif bagi pensiunan dan calon wirausaha. Ia memperkenalkan Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, instrumen penguatan ekonomi berbasis komunitas yang dapat diakses ASN dan masyarakat.
Sesi kedua menampilkan Menteri Koperasi sekaligus Ketua Umum IKA UNPAD, Dr. Ferry J. Juliantono, S.E., Ak., M.Si., yang menyoroti peran koperasi sebagai wadah ekonomi inklusif bagi pensiunan dan calon wirausaha. Ia memperkenalkan Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, instrumen penguatan ekonomi berbasis komunitas yang dapat diakses ASN dan masyarakat.
![]() |
| Wamen Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor berkenan meninjau stan pameran (Foto: Asep GP) |
Sempitnya lapangan kerja tersebut disebabkan kebanyakan impor mulai dari pertanian, pangan, pakaian, pakaian bekas hingga garam, dan sebagainya. Banyaknya impor tersebut kemudian mematikan industri di dalam negeri dan berimbas terhadap kurangnya penciptaan lapangan kerja dari sektor industri. Akhirnya sekarang banyak kaum Gen Z dan Milenial tidak memiliki pekerjaan formal.
Sedangkan kata Ferry, dalam waktu tidak lama lagi sebagian besar penduduk kita akan didominasi oleh anak muda. Karena memang sekarang jumlah kaum Gen Z 11 juta, Milenial 30 jutaan plus yang masih kuliah/mahasiswa 2–3 tahun ke depan (kaum Gen Z yang 11 juta) bisa jadi 25 juta orang. “Kementerian Koperasi melihat ini menjadi sebuah tantangan, dan ini bisa dilihat sebagai masalah besar. Kalau mereka tidak dipikirkan bagaimana mereka bisa mendapat pekerjaan, ini akan menimbulkan potensi masalah sosial yang luar biasa. Sekarang di satu sisi data tadi menunjukkan bahwa lapangan kerja formal tidak lagi jadi sandaran. Apalagi dalam situasi sekarang ketika tidak terlalu banyak industri berdiri, kalaupun ada jumlahnya relatif tidak terlalu banyak. Harapannya memang karena tumbuhnya industri itu akan jadi pembukaan lapangan pekerjaan dengan jumlah yang lebih masif. Akhirnya koperasi menjadi pembicaraan kami di Kementerian Koperasi. Minggu lalu kami mengadakan rapat pimpinan di Kementerian Koperasi dan akhirnya kami memutuskan bahwa jumlah generasi muda Milenial 40 tahun ke bawah, Gen Z 30 tahun ke bawah, dan termasuk juga generasi Alpha yang masih kuliah itu, sekarang menjadi sasaran target dari Kementerian Koperasi,” paparnya.
Sedangkan kata Ferry, dalam waktu tidak lama lagi sebagian besar penduduk kita akan didominasi oleh anak muda. Karena memang sekarang jumlah kaum Gen Z 11 juta, Milenial 30 jutaan plus yang masih kuliah/mahasiswa 2–3 tahun ke depan (kaum Gen Z yang 11 juta) bisa jadi 25 juta orang. “Kementerian Koperasi melihat ini menjadi sebuah tantangan, dan ini bisa dilihat sebagai masalah besar. Kalau mereka tidak dipikirkan bagaimana mereka bisa mendapat pekerjaan, ini akan menimbulkan potensi masalah sosial yang luar biasa. Sekarang di satu sisi data tadi menunjukkan bahwa lapangan kerja formal tidak lagi jadi sandaran. Apalagi dalam situasi sekarang ketika tidak terlalu banyak industri berdiri, kalaupun ada jumlahnya relatif tidak terlalu banyak. Harapannya memang karena tumbuhnya industri itu akan jadi pembukaan lapangan pekerjaan dengan jumlah yang lebih masif. Akhirnya koperasi menjadi pembicaraan kami di Kementerian Koperasi. Minggu lalu kami mengadakan rapat pimpinan di Kementerian Koperasi dan akhirnya kami memutuskan bahwa jumlah generasi muda Milenial 40 tahun ke bawah, Gen Z 30 tahun ke bawah, dan termasuk juga generasi Alpha yang masih kuliah itu, sekarang menjadi sasaran target dari Kementerian Koperasi,” paparnya.
![]() |
| Sekjen IKA UNPAD, Yhodhisman Soratha, menyerahkan cenderamata kepada narasumber (Foto: Asep GP) |
Ya, justru yang belum sama sekali disentuh, dieksplor, dan dikembangkan menjadi sebuah alternatif lapangan pekerjaan bagi generasi muda – Milenial, Gen Z, dan Alpha – adalah koperasi. Sejalan dengan itu, Presiden punya program besar untuk program desa dan program Merah Putih. Jadi ini program strategis nasional, akan mendirikan koperasi di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia.
Menkop Ferry juga melaporkan, dari 80 ribu target program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hari ini pihaknya sudah mendapatkan data tanah yang berhasil diinventarisasi sekitar 44 ribu titik tanah yang siap dibangun. Yang sedang dibangun sekarang ada 27 ribu yang insyaallah katanya bulan Maret–April nanti akan selesai proses pembangunan fisik gudangnya, juga gerai dan transport kapalnya, siap untuk operasional. Pengawasan, pengurus, dan pengelolanya sudah siap termasuk menyiapkan digitalisasinya sebaik mungkin, sehingga nanti di bulan Maret atau paling lambat April, 27 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia sudah siap untuk operasional. Dan insyaallah katanya, di bulan Desember ini 80 ribu seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih selesai dibangun dan siap operasional.
Menkop Ferry juga melaporkan, dari 80 ribu target program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hari ini pihaknya sudah mendapatkan data tanah yang berhasil diinventarisasi sekitar 44 ribu titik tanah yang siap dibangun. Yang sedang dibangun sekarang ada 27 ribu yang insyaallah katanya bulan Maret–April nanti akan selesai proses pembangunan fisik gudangnya, juga gerai dan transport kapalnya, siap untuk operasional. Pengawasan, pengurus, dan pengelolanya sudah siap termasuk menyiapkan digitalisasinya sebaik mungkin, sehingga nanti di bulan Maret atau paling lambat April, 27 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia sudah siap untuk operasional. Dan insyaallah katanya, di bulan Desember ini 80 ribu seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih selesai dibangun dan siap operasional.
![]() |
| Satu di antara stan (Foto: Asep GP) |
“Harapan Presiden, 27 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini bagi kami di Kementerian Koperasi diharapkan bisa menjadi alternatif penciptaan lapangan pekerjaan. Karena nanti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini akan melakukan kegiatan untuk gerai yang akan dikelola secara modern. Penyediaan gerai apotek, benih, pergudangan, aktivitas usaha kerajinan, kuliner, dan sebagainya, diharapkan akan bisa seperti yang diminta Presiden. Akan ada perputaran uang di desa-desa, pertumbuhan ekonomi di desa-desa, dan masyarakat kita khususnya di pedesaan tidak lagi sebagai penerima manfaat, tetapi mereka bisa menjadi subjek atau pelaku ekonomi. Dibuatkan badan usaha, badan usahanya koperasi, dan sarana dibantu dibukakan akses permodalannya. BNI salah satunya nanti diharapkan bisa ikut membimbing para pengawas, pengelola, dan pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih agar betul-betul bisa menjadi alat atau instrumen ekonomi yang ada di desa-desa,” demikian kata Menkop yang juga Ketua Umum IKA UNPAD.
Acara dilanjutkan dengan business matching bersama perwakilan perbankan dan layanan kesehatan, yakni dari Bank Mandiri Taspen, Bank BJB, Parahita, dan Dental Rakyat, untuk memberikan informasi permodalan, pendampingan usaha, serta peluang investasi di sektor kesehatan masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan business matching bersama perwakilan perbankan dan layanan kesehatan, yakni dari Bank Mandiri Taspen, Bank BJB, Parahita, dan Dental Rakyat, untuk memberikan informasi permodalan, pendampingan usaha, serta peluang investasi di sektor kesehatan masyarakat.
![]() |
| "Rempeg" (Foto: Asep GP) |
Seminar ini dihadiri 485 peserta luring dan ratusan peserta daring dari berbagai wilayah Indonesia, terdiri dari ASN menjelang purnabakti, pensiunan ASN, serta masyarakat umum. Acara ditutup oleh Wakil Ketua Umum IKA UNPAD, Tumarize Rine, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini akan dilanjutkan dengan program “Mentoring for New Entrepreneur” selama enam bulan untuk mendampingi calon pengusaha baru mengembangkan bisnis.
Melalui rangkaian kegiatan ini, IKA UNPAD berharap dapat berkontribusi nyata dalam mempersiapkan ASN dan masyarakat memasuki masa purnabakti secara mandiri, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem kewirausahaan yang kuat di Indonesia. (Asep GP) ***
Tatarjabar.com
January 30, 2026
CB Blogger
IndonesiaMelalui rangkaian kegiatan ini, IKA UNPAD berharap dapat berkontribusi nyata dalam mempersiapkan ASN dan masyarakat memasuki masa purnabakti secara mandiri, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem kewirausahaan yang kuat di Indonesia. (Asep GP) ***
Seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneur dan Bisnis – IKA UNPAD
(Foto: Asep GP) Acara yang digelar pada Sabtu (24/1) di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Jl. Dipatiukur No. 35 Bandung in...
Tuesday, January 20, 2026
Acara pelantikan berlangsung pada Sabtu, (17/1/2026), di Gedung Pusat Kebudayaan Jl. Naripan No. 7–9, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP PPSI Galih Santika, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., Danpusenif Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M., Wadan Pusenif Mayjen TNI Tantan Ardianto, S.I.P., Irjen Polisi Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H. (mewakili Kapolda Jabar), Ketua DPRD Jawa Barat Bucky Wibawa Karya Guna, Ketua Dispora Jabar Dr. Hery Antasari, S.T., M.Dep., Plg. (mewakili Gubernur Jabar), Haji Umuh Muchtar (Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat), Dadang Naser (Anggota DPR RI – Golkar), Andri P. Kantaprawira (Presiden Gerpis – Panata Gawe Majelis Musyawarah Sunda), Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Rully Alfiady, Gending Raspuji (Inohong Pencak Silat), Ahmad Tantowi (PPSI Cirebon), Sekum DPW PPSI Jawa Barat Deden Dinar Mukti, serta jajaran pengurus DPP, DPW, DPD, maestro, sesepuh paguron, dan tamu undangan lainnya.
Pelantikan Ketua DPW PPSI Jawa Barat beserta jajaran pengurus periode 2025–2030 langsung dilakukan oleh Ketua Umum DPP PPSI Galih Santika, disaksikan Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih.
![]() |
| Ketua Dadang Hermansyah (tengah) beserta jajaran pengurus PPSI DPW Jabar Periode 2025–2030 siap memajukan pencak silat Jawa Barat (Foto Asep GP) |
Ketua Umum DPP PPSI Galih Santika dalam sambutannya menjelaskan sejarah PPSI ini lahir tahun 1957 berkat jasa R.A. Kosasih (Teritorial VI). Ketua PPSI yang pertama dijabat Kolonel CPM Harun dari unsur Kodam dan Denpom. Jadi, PPSI dilahirkan oleh Kodam dan Denpom. Ketika itu hampir semua anggota Kodam–Denpom merupakan anggota PPSI, dan PPSI dibentuk untuk mempersatukan para pendekar dan jawara demi membela kedaulatan negara dan memberantas DI/TII.
Pada masa sekarang pun Galih merasa reugreug (tenang) karena PPSI Jabar tetap patareman, tidak putus hubungan, dan bersinergi dengan TNI. Hal itu dibuktikan dengan hadirnya Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan yang mendukung kegiatan tersebut, ditambah dengan Dadang Hermansyah sebagai pimpinan DPW PPSI Jawa Barat.
Galih juga mengingatkan berdirinya pencak silat di Jawa Barat, sejarahnya tak bisa dilepaskan dari nama Raden Ema Bratakusumah, yang kala itu bersama para jawara mendirikan “Beungkeut Pakuan”. Oleh karena itu, Galih berharap DPRD, Disparbud, dan instansi terkait mendorong penetapan Raden Ema Bratakusumah yang juga dikenal sebagai pendiri Kebon Binatang Bandung, inohong/tokoh Sunda, dan tokoh pejuang pergerakan nasional ini, ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional.
![]() |
| Pangdam Siliwangi Mayjen Kosasih, sebuah organisasi sejatinya harus membawa kemaslahatan bagi semua orang (Foto Asep GP) |
Sementara itu, Danpusenif Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan berpesan kepada Ketua DPW PPSI Jawa Barat Periode 2025–2030 Dadang Hermansyah agar menjaga amanah dengan baik. Pihaknya juga sangat mendukung kepemimpinan Dadang dan mempersilakan PPSI untuk memakai gedung Pusenif untuk dipakai berlatih, turnamen, dan kegiatan lainnya.
Iwan juga menjelaskan tentang berdirinya PPSI pada tanggal 17 Agustus 1957, dengan tujuan untuk mempersatukan para pesilat di seluruh Indonesia demi menjaga dari rongrongan DI/TII. Kala itu para jawara dan tokoh pemuda yang mempunyai keahlian silat dipersatukan untuk menjaga keutuhan NKRI. Sekarang PPSI telah berusia 68 tahun.
Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Kosasih dalam sambutannya berpesan, “Sebuah organisasi sejatinya bisa membawa kemaslahatan bagi rakyat yang kita pimpin, bagi organisasi yang kita pimpin, bagi anggota, dan seluruh masyarakat di wilayahnya. Makanya, seperti tadi sudah dikatakan oleh Pak Iwan, silat, salat, dan Siliwangi tidak bisa dipisahkan. Artinya, bangsa dan negara ini dibentengi oleh silat dan salat. Semoga ke depan PPSI semakin kokoh, maju, dan berprestasi,” tegas Panglima Siliwangi yang nyantri ini.
![]() |
| Ketua DPP PPSI, Galih Santika, sedang melantik jajaran pengurus DPW PPSI Jawa Barat periode 2025–2030 (Foto Asep GP) |
Tentu saja Ketua DPW PPSI Jawa Barat Dadang Hermansyah sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas dukungan dan kehadiran Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan, Ketua DPRD Jawa Barat, Umuh Muchtar, serta para maestro dan inohong pencak silat lainnya. “Ini momentum bersejarah yang luar biasa yang jadi penyemangat bagi PPSI Jawa Barat,” katanya haru.
Dadang juga berharap implementasi turunan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bisa dikuatkan lagi melalui Perda Provinsi demi memperkokoh jati diri bangsa.
Hal ini langsung direspons oleh Ketua DPRD Jawa Barat Bucky Wibawa yang menegaskan DPRD Provinsi Jawa Barat sedang dalam proses membuat Perda Pemajuan Kebudayaan, turunan dari UU Pemajuan Kebudayaan.
“Tentu dalam 10 objek pemajuan kebudayaan di dalamnya ada seni dan olahraga tradisional. Untuk itu, pansus bakal menemui PPSI untuk meminta saran dan informasi, untuk menyempurnakan isi dari Perda Pemajuan Kebudayaan,” tandasnya.
Dadang juga berharap implementasi turunan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bisa dikuatkan lagi melalui Perda Provinsi demi memperkokoh jati diri bangsa.
Hal ini langsung direspons oleh Ketua DPRD Jawa Barat Bucky Wibawa yang menegaskan DPRD Provinsi Jawa Barat sedang dalam proses membuat Perda Pemajuan Kebudayaan, turunan dari UU Pemajuan Kebudayaan.
“Tentu dalam 10 objek pemajuan kebudayaan di dalamnya ada seni dan olahraga tradisional. Untuk itu, pansus bakal menemui PPSI untuk meminta saran dan informasi, untuk menyempurnakan isi dari Perda Pemajuan Kebudayaan,” tandasnya.
![]() |
| Para inohong yang hadir, rempeg (Foto Asep GP) |
Bucky juga mengabarkan pencak silat sudah mendapat pengakuan dari UNESCO, demikian juga dengan silat Malaysia. Hanya bedanya, silat Malaysia lebih menekankan aspek bela diri, sedangkan pencak silat Indonesia lebih luas lagi, yaitu pencak silat sebagai warisan budaya yang menyatu dengan sistem sosial budaya masyarakatnya.
Tapi pengakuan tersebut, kata Bucky, sewaktu-waktu akan hilang dicabut lagi oleh UNESCO kalau kita tidak bisa menjaga, memelihara, mewariskan, dan mempromosikannya.
“Oleh karena itu, PPSI menurut saya memang harus menjadi garda terdepan untuk menjaga pengakuan dari UNESCO ini. Karena UNESCO juga mengisyaratkan bahwa warisan budaya tak benda yang sudah mendapat pengakuan UNESCO harus memenuhi aspek-aspek paling tidak terjaga, terpelihara, teregenerasikan, dan terpromosikan. Jadi, kalau empat aspek itu hilang, bisa saja di suatu saat pengakuan itu dicabut lagi oleh UNESCO,” kata Bucky mengingatkan.
![]() |
| (Foto Asep GP) |
Jadi, kata Bucky, dengan adanya PPSI ini, insyaallah pencak silat dari Indonesia akan tetap lestari dan berkembang, teregenerasikan, dan terpromosikan.
Ketua DPRD Jabar juga bercerita, pada masa Gubernur Ridwan Kamil dirinya pernah mengajukan berdirinya “Kampung Penca” di Jatinangor–Sumedang. Tapi setelah disediakan lahan 6–8 hektare dan sudah berdiri, ternyata tempat tersebut tidak sesuai dengan peruntukannya sebagai etalase salah satu produk warisan Jabar. Sebuah kampung silat yang bisa menciptakan satu ekosistem kehidupan penca Jabar yang tidak hanya untuk belajar bela diri saja, tetapi juga menciptakan ekosistem perekonomian. Ada yang membuat berbagai macam iket, baju pangsi, bedog/golok, kendang, tarompet, hingga nantinya bisa mengundang turis untuk menyaksikan the living of Sundanese culture melalui pencak silat.
“Tapi setelah jadi, saya menyaksikan gedungnya kok mirip saung. Ada juga gedung yang dipersiapkan seperti untuk turnamen. Terus namanya juga bukan ‘Kampung Penca’, tapi Pusat Penca Silat,” kata Bucky terheran-heran saat itu.
![]() |
| (Foto Asep GP) |
Tapi kakaknya lady rocker ternama Nicky Astria ini tak patah arang. Ia berniat ingin terus memajukan warisan budaya karuhun Sunda ini. Kini dirinya meminta dukungan pemerintah untuk menghidupkan kembali paguron-paguron atau sanggar penca di Jawa Barat.
“Jadi sanggar-sanggar penca harus didukung pemerintah agar jadi museum-museum hidup yang terus berproses setiap hari. Sekarang saya juga punten minta dukungan gubernur dan Kadispora agar setiap paguron penca dan para maestronya digaji oleh pemerintah. Itu kan tidak besar, gajinya sama dengan guru sekolah saja. Jadi para maestro bisa fokus menjalankan tugasnya mentransformasikan nilai-nilai budaya penca kepada generasi muda. Tidak memikirkan lagi kebutuhan dapur dan mencari nafkah ke mana-mana, tapi ditugaskan negara hanya mengajar penca,” kata Bucky serius.
Mewakili Gubernur Jawa Barat, Ketua Dispora Jabar Dr. Hery Antasari menyampaikan pesan Gubernur KDM agar kita semua menjaga pencak silat sebagai warisan budaya leluhur Sunda yang memperkaya budaya bangsa. Silat juga bukan hanya urusan teknik saja, tetapi juga tentang akhlak, disiplin, dan karakter.
Gubernur KDM juga mengingatkan orang Sunda itu terbanyak di Indonesia (sekitar 50 juta orang), tapi kenapa banyak yang berdiri di belakang layar, low profile, someah hade ka semah, mangga ti payun we. Kalah dengan saudara-saudaranya dari provinsi lain yang lebih sedikit jumlah penduduknya, tetapi bicaranya vokal, sehingga terlihat pintar dan banyak berkiprah dalam berbagai bidang pemerintahan. Oleh karena itu, orang Sunda harus mengubah mindset (pola pikir) dan karakternya agar diperhatikan oleh semua orang.
Dengan adanya PPSI ini, gubernur juga berharap generasi muda sekarang yang didominasi 60–70 persen Gen Z, milenial muda, dan Generasi Alpha yang anteng dengan media sosial, bisa berbelok lagi karakter dan mindset-nya, kembali menjadi baik lagi, tahu etika, dan sopan santun.
“Wilujeng, semoga dengan kepemimpinan baru ini bisa melahirkan silaturahmi yang lebih baik di antara perguruan dan insan pencak silat di Jawa Barat, sauyunan, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan—kebersamaan, kepaduan, dan kekompakan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
![]() |
| (Foto Asep GP) |
Ucapan selamat juga datang dari Ahmad Tantowi, Ketua PPSI di Kecamatan Mundu dan aktif di Kotamadya Cirebon. Pendekar Cirebon yang akrab disapa Pak Pitanto ini merasa sangat bahagia menyaksikan PPSI sudah tersebar ke seluruh Nusantara. PPSI Cirebon pun, kata Pitanto, sudah dibentuk dan berkembang, aktif membina regenerasi dari mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa.
Menurut Pitanto, di Kota Madya Cirebon ada 800 pesilat dari 8–9 perguruan dan sedang dikembangkan juga di Kabupaten Cirebon.
Pa Pitanto pun berharap PPSI lebih berjaya, berhasil, dan jauh lebih maju dari sebelumnya. “Insyaallah ini jajaran pengurusnya para generasi muda dan pemimpinnya masih muda,” katanya sambil berlalu bersama keluarganya, kembali ke Kota Udang.
Usai dilantik, didampingi sekum beserta jajarannya, Dadang Hermansyah kepada wartawan mengatakan rasa optimisnya. Dengan kebersamaan, pencak silat Jawa Barat bisa dimajukan dan organisasi pelestari warisan luhung karuhun Sunda ini dapat dikembangkan dengan membawa kemaslahatan bagi para anggota dan seluruh masyarakat.
Tanda-tandanya sudah kelihatan, seperti dikatakan Pangdam Siliwangi. Kebetulan PPSI dideklarasikan secara resmi tahun 1957 (perencanaannya 1920–1922) oleh Pangdam Siliwangi ke-7 R.A. Kosasih. Kebetulan sekarang pun Dadang dilantik sebagai Ketua DPW PPSI Jabar ke-7 oleh Pangdam Siliwangi ke-47 yang juga bernama Kosasih. “Semoga angka tujuh ini menjadi tonggak sejarah, pertanda baik, PPSI kembali ditemukan oleh bapaknya,” harapnya.
Pelantikan DPW PPSI Jawa Barat Periode 2025–2030 dimeriahkan juga dengan pertunjukan pencak silat oleh anggota PPSI Jawa Barat, MC kondang Joe Project P, Ki Daus, serta dihadiri 27 DPD PPSI kabupaten/kota se-Jawa Barat. (Asep GP)***
Dadang Hermansyah, S.E., AK., M.M., CA., CLA., Resmi Jadi Ketum DPW PPSI Jawa Barat Periode 2025–2030
Acara pelantikan berlangsung pada Sabtu, (17/1/2026), di Gedung Pusat Kebudayaan Jl. Naripan No. 7–9, Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandun...
Tuesday, January 13, 2026
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, Kota Bandung ini berlangsung dari tanggal 10–31 Januari 2026 serta dibuka oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Sabtu sore (10/1/2026). Acara ini dimeriahkan oleh Tim Kesenian ISBI Bandung.
Pameran ini menarik, teman-teman ini rata-rata sebagian besar memilih medium seni lukis sebagai keutamaan ungkapannya. Tapi yang menarik lagi justru keseragamannya, mereka seperti “sepakat” menggunakan medium seni lukis ini untuk membicarakan satu hal tertentu. Kemudian yang terjadi adalah mereka memberikan perspektif yang berbeda-beda. Ada yang memulainya dengan keintimannya dengan pohon itu sendiri, entah dimulai dengan pengalamannya, mungkin pernah menanam pohon, pernah dekat dengan pohon, atau pernah kehilangan pohon, dan sebagainya.
![]() |
| Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut Kota Bandung sebagai kota terpadat oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. (Foto: Asep GP) |
“Saya kira ini yang menarik dari keseragaman mediumnya. Ya kita tahu mediumnya adalah seni lukis, tapi tawaran perspektifnya yang berbeda, dan ini yang saya kira menarik. Jadi kontribusi terbesar pelukis adalah menyumbangkan cara melihat. Karena apa yang diperjuangkannya, apa yang mereka pertarungkan di dalam bidang dua dimensi sebenarnya hampir sama, yang membedakannya adalah cara mereka memasuki bidang datarnya,” demikian dikatakan Kurator Pameran, Diyanto, kepada wartawan.
Sementara Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam sambutannya mengatakan, Bandung adalah kota yang terbangun oleh lanskap, dan lanskap itulah yang membuat orang jadi swarming ke Kota Bandung. Swarming untuk berkarya.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Swarming itu berhimpun, berkumpul, atau sebuah perilaku komunal dari masyarakat yang berkumpul dan bergerak bersama-sama atas sebuah daya tarik tertentu. Daya tarik itu bisa ekonomi, bisa budaya, dan budayanya itu bisa berupa pendidikan, bisa juga sebuah kegiatan berkarya.
Itu sebabnya, kata Wali Kota, perguruan tinggi pertama di Indonesia adanya di Kota Bandung (ITB/Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920). Perguruan tinggi teknologi, tapi pada saat bersamaan didirikan juga Fakultas Seni Rupa terbaik di Indonesia (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Ya di Kota Bandunglah disadarkan adanya gabungan teknologi dengan kesenian. Karena kalau berteknologi tanpa berkesenian, kita kan menjadi mesin-mesin tanpa perasaan. Begitu juga sebaliknya, ketika berkesenian tanpa dilengkapi dengan teknologi, maka kita akan menjadi manusia-manusia purba yang akan tertinggal di dalam gua,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti tema pameran “Pohon untuk Kehidupan” yang dipaparkan Kurator Pameran, Diyanto. Menurutnya memang benar pohon adalah salah satu sumber kehidupan kita, termasuk di Kota Bandung, dan Farhan merasa bangga karena bisa disaksikan oleh semua orang bahwa Kota Bandung adalah salah satu kota yang densitas pohon perdananya terbanyak di Indonesia.
![]() |
| Penghargaan dan hadiah karya buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
Tapi salah satu tantangan terbesar secara teknokratis Kota Bandung ini, 10 tahun yang lalu hanya punya 12,8% RTH (Ruang Terbuka Hijau). “Nah, sekarang kami mengejar supaya bisa mencapai 20%. Saya sedang mengajukan ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pak boleh enggak RTH-nya itu bukan dihitung dari koefisien luas tanah, tetapi dihitung dari koefisien banyaknya pepohonan di Kota Bandung. Karena dengan begitu kita bisa berharap RTH Kota Bandung ini bukan sekadar sebuah hamparan, tetapi pohon-pohon yang hadir di antara ruang-ruang kehidupan kita, baik secara fisik maupun secara harapan,” kata Farhan.
Akhirnya Wali Kota berterima kasih kepada Ketua Umum ASPEN, Abang Kembang Sepatu, Kurator Diyanto, dan seluruh peserta pameran.
![]() |
| Lukisan "Generasi Yang Hilang" karya Abang Kembang Sepatu, kenang-kenangan buat Pak Wali (Foto: Asep GP) |
“Saya sangat beruntung menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya di luar, lalu balik lagi memimpin Bandung dan mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat bukan oleh manusia, tapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. Bapak/Ibu sekalian, terima kasih telah menjadi pemantik kehidupan dan pemantik jiwa-jiwa yang selalu gelisah di Kota Bandung. Dan katanya Bandung kalah oleh Artjog–Yogyakarta, karena kegiatan seninya lebih hebat di sana, tapi saya yakin siapa pun yang ingin belajar dan mengerti apa itu seni, harus menginjakkan kakinya dulu di Kota Bandung,” pungkas Pak Wali, disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Sementara itu Ketua ASPEN Bandung Raya, Ir. Muhammad Bakrie Baharuddin, berharap pameran ini dapat menghadirkan pengalaman visual yang inspiratif serta mempererat silaturahmi di antara pecinta seni.
Setelah itu, pengguntingan pita dilakukan oleh Wali Kota Bandung dan para peserta pameran, beserta para tamu undangan memasuki ruangan Thee Huis Gallery, lalu semuanya asyik mengapresiasi berbagai karya lukisan bertajuk “Pohon untuk Kehidupan”. Tampak juga Abang Kembang Sepatu (Jakarta) memberikan hadiah lukisan karyanya “Generasi yang Hilang” kepada Wali Kota Bandung dan langsung diterima dengan gembira, akan dipajang di tempat kerja, katanya.
Di antara sekian lukisan terlihat ada sebuah karya yang menggambarkan kebakaran hutan yang sedang berusaha dipadamkan oleh beberapa petugas pemadam kebakaran. Warna merah, jingga (oranye), dan kuning terlihat mendominasi, kilatan bara api itu terlihat sungguh ngeri.
![]() |
| Kurator Diyanto di depan "Ruhay" karya Supriatna (Foto: Asep GP) |
Ya, inilah lukisan “Ruhay” (bara api dalam bahasa Sunda) karya Dr. Supriatna. Menurut Diyanto, karya Supriatna ini menawarkan pada kita satu sudut pandang yang lain. Sementara para pelukis yang lain melihat pohon hubungannya langsung dengan konteks lingkungan, terkait apa yang kita duga sebagai ancaman yang bersifat hidrometeorologi, sementara karya Supriatna memberikan sudut yang lain, misalnya lebih melihatnya dari perspektif antropogenik. Jadi berbagai hal terkait lingkungan sebenarnya diakibatkan oleh aktivitas manusia, entah penebangan pohon atau musibah kebakaran hutan.
Karya ini, kata Diyanto, menjadi menarik di antara yang lain karena tawaran perspektifnya yang berbeda, yaitu konteksnya dekat dengan kejadian.
“Ini lukisan kembali mengingatkan bahwa kita harus menyadari, selain bencana yang sifatnya hidrometeorologi, tentu kita harus ingat ada ancaman lain yang sifatnya antropogenik seperti ini, berbagai hal yang sebenarnya nanti memperlihatkan kerakusan manusia terhadap alam, dan sebagainya. Ini yang jadi menarik,” tandasnya.
Supriatna sendiri ketika ditanya wartawan mengatakan, ia sengaja mengambil judul lukisannya dari bahasa Sunda, “Ruhay”, titik kulminasi api yang sudah menjadi bara. Jadi kengerian dari bahaya api itu sendiri yang ia ekspose.
Kengerian yang diwakili warna api yang dominan merah–kuning–jingga. Sementara pohonnya sudah mulai berubah jadi arang kehitaman. Dalam lukisan ini ada juga manusia (petugas pemadam) yang berusaha memadamkan kebakaran hutan tersebut dengan segala risiko yang mengancam jiwanya. Kata Kang Supri, itu hanya simbol, gambaran di permukaannya saja, sementara di dalam hutan tersebut banyak penghuni lain yang terancam nyawanya.
![]() |
| Supriatna: kalau alam rusak, akan menjadi bencana mengerikan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Foto: Asep GP) |
“Jadi saya gambarkan secara dinamis, seolah-olah sedang terjadi, ada goresan-goresan liar jilatan api yang tidak bisa diprediksi ke mana arahnya. Kengerian itu mengingatkan bagaimana manusia harus menjaga alam. Ini saya sampaikan dengan goresan-goresan dinamis dengan warna mewakili api dan pohon serta ada lelehan, ini menggambarkan kengerian,” jelas Supriatna.
Ketika ditanya apakah lukisan ini kritik terhadap bencana alam yang terjadi di Sumatra baru-baru ini, kata Kang Supri, lukisannya dibuat pada tahun 2025, jauh sebelum kejadian bencana alam Sumatra. Tapi katanya esensinya sama, ada pesan yang ingin disampaikan, kalau alam rusak, akibat buruknya tidak hanya akan dirasakan manusia saja, tapi hewan, tumbuhan, dan alam pun akan rusak. Itu edukatifnya.
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., ini adalah seorang seniman sekaligus akademisi. Alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2) ini meneruskan menimba ilmu Komunikasi Seni di S3 Pascasarjana Unpad dan kini menjabat Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama di ISBI Bandung.
Tapi kegemarannya melukis tak pernah padam, tak heran karyanya hingga kini sudah mencapai seribuan. Ada yang dikoleksi dan ada juga beberapa lukisannya yang tidak tahu rimbanya, tidak didokumentasikan. Tapi karyanya sudah dikoleksi oleh kolektor di beberapa negara seperti China, Thailand, Jepang, dan sisanya, walau orientasinya bukan untuk komersial, lukisannya dibeli teman-temannya dan perusahaan di dalam negeri. “Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa saja,” pungkasnya. (Asep GP)***
ASPEN Gelar Pameran Lukisan “Pohon untuk Kehidupan” di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat
Pameran yang berlangsung di galeri kawasan Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kel. Dago, Kec. Coblong, ...
Friday, January 9, 2026
Acara berlangsung di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung, Jalan Peta No. 241, Kota Bandung, (7/1/2026).
Pendidikan yang diselenggarakan di LPP Ariyanti menitikberatkan pada pendidikan keterampilan yang berbasis kompetensi. Pendidikan keterampilan diyakini mampu menjadi solusi yang tepat dalam mengurangi angka pengangguran. Sinergi dengan dunia kerja melalui program link and match, LPP Ariyanti telah menjalin kerja sama dengan institusi, dunia usaha, dan dunia industri dalam dan luar negeri. Kerja sama terjalin dalam penyusunan kurikulum, praktik kerja lapangan, penempatan kerja, dan memperluas networking dalam berwirausaha.
Dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan serta pendidikan karakter, alumni LPP Ariyanti diharapkan dapat menjadi seorang profesional yang memiliki kecerdasan intelektual serta memiliki budi pekerti yang luhur sesuai dengan tema wisuda kali ini, yakni “LPP Ariyanti Senantiasa Membangun Kompetensi, Menciptakan Prestasi, Siap Menginspirasi.” Tema ini dipilih sebagai cerminan dari komitmen LPP Ariyanti dalam menjawab tantangan dunia kerja dan masyarakat yang terus berkembang.
![]() |
| Direktur LPP Ariyanti Ishviastuti, S.E. (Foto Asep GP) |
Hal tersebut menegaskan bahwa lulusan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis yang mumpuni, tetapi juga mampu mengaktualisasikan diri melalui prestasi nyata serta memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Dengan semangat tersebut, alumni LPP Ariyanti diharapkan siap menjadi pribadi yang adaptif, berdaya saing, dan mampu menginspirasi orang lain melalui karya, sikap, dan kontribusi yang bermakna di dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.
Demikian dikatakan Direktur LPP Ariyanti, Ishviastuti Oskar, S.E. Dalam sambutannya, Bu Direktur juga mengatakan, “Tahun akademik 2024/2025 adalah tahun di mana kami bekerja keras untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, berprestasi, dan menginspirasi. Kami mempersiapkan dengan kurikulum yang disusun sesuai dengan pencapaian pembelajaran. Kami menitikberatkan pada pendidikan dan pelatihan keterampilan yang berbasis kompetensi kerja dan kemampuan berwirausaha. Kurikulum yang kami susun senantiasa mengacu pada kesesuaian dan kesepadanan dengan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri serta nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam hal karakter positif. Tujuan pencapaian pembelajaran LPP Ariyanti yaitu menghasilkan SDM yang berkompeten, berkarakter positif, berdaya juang, berdaya saing, menguasai teknologi agar siap kerja atau berwirausaha. Harapan kami, lulusan LPP Ariyanti menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan mampu menyelesaikan tugas dengan tepat, cepat, serta bertanggung jawab,” paparnya.
Ishvi juga mengatakan, kelebihan LPP Ariyanti, alumninya ada yang menempati posisi tinggi di berbagai perusahaan bahkan sudah tersebar hingga ke luar negeri. Hingga semua itu menjadi motivasi buat adik-adik angkatannya, dan yang paling menggembirakan, para alumni Ariyanti membuat semacam garansi untuk mempersilakan para lulusan baru untuk bekerja di perusahaannya.
Selain sambutan dari Direktur LPP Ariyanti, Presiden Direktur LPP Ariyanti, Ibu Hj. Dewi Irawati, MBA., mengatakan, lebih dari sekadar membangun kompetensi, LPP Ariyanti menjadikan pencapaian prestasi (achievement-oriented development) sebagai prioritas utama. Prestasi bagi kami bukan hanya penghargaan formal, tetapi cerminan kemampuan lulusan dalam menunjukkan performa unggul, menghadirkan solusi inovatif, dan menciptakan nilai tambah (value creation) di dunia kerja maupun kewirausahaan. Namun, lulusan yang ideal tidak hanya kompeten dan berprestasi, tetapi juga mampu menjadi insan yang menginspirasi (inspiring individuals) melalui integritas, etika kerja, karakter yang matang, dan kepedulian sosial.
![]() |
| Pembina Yayasan Pendidikan Ariyanti,Ir. Adriana Budhiparama Pong Permadi. MBA, bersama Direktur LPP Ariyanti ketika diwawancarai wartawan (Foto Asep GP) |
“Karena itu, dengan menggabungkan tiga aspek kompetensi, prestasi, dan inspirasi, kami percaya lulusan LPP Ariyanti siap menjadi generasi yang unggul, berpengaruh, dan relevan di tengah dinamika perubahan dunia,” demikian kata Dewi Irawati.
Sementara itu, Pembina Yayasan Pendidikan Ariyanti, Ir. Adriana Budhiparama Pong Permadi, MBA, yang hadir saat itu selain mengucapkan selamat dan sukses, mengingatkan kepada para lulusan agar menjaga baik nama almamater, punya karakter yang baik, dan komitmen dalam pekerjaan menjadi tenaga profesional yang kompeten dan daya juang yang tinggi sehingga mencapai kesuksesan.
“Di tengah persaingan global, kita harus punya pikiran/pengetahuan yang luas, banyak belajar, dan terus belajar seumur hidup, karena pendidikan itu adalah bekal bagi perjuangan hidup untuk menuju global,” tegasnya.
Termasuk dalam menghadapi 2045 (Indonesia Emas), kata Adriana, para lulusan LPP Ariyanti sudah dibekali dengan pendidikan yang relevan sesuai kebutuhan zaman, hingga siap bekerja dengan baik.
“Dan untuk itu kami akan terus menghasilkan lulusan dalam berbagai macam jurusan vokasi dari program khusus, program singkat, sampai dengan belajar satu tahun, dan semua itu akan terus ditingkatkan dengan program-program kami yang banyak sehingga anak-anak bisa belajar untuk masa depannya,” pungkasnya.
Kualitas pendidikan di Ariyanti dirasakan oleh Astiwi Triwidiya Putri (19), wisudawan/lulusan terbaik dari Kepulauan Bangka Belitung yang mengambil Program 1 Tahun Jurusan Tata Kecantikan Kulit. Ia mengatakan, pelajaran di Ariyanti sangat mendukung bakat otodidaknya yang juga di bidang kecantikan kulit. Astiwi adalah pemilik Astri Wedding di Jalan Desa Nangka RT 05 Bangka Belitung. Ia disuruh ibunya yang orang Sunda untuk belajar ke Bandung, di LPP Ariyanti, dan terbukti anak kos yang mandiri ini sekarang menjadi siswa teladan dan siap mengembangkan perusahaannya di bidang kecantikan di kampung halamannya.
Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Bidang Pelatihan dan Produktivitas Kerja Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Ibu Rina Indrisari Nugraha, S.IP., M.A.P.; serta Kepala Bidang PP PAUD dan Dikmas Kota Bandung, Bapak Drs. Abdul Gaos, M.Pd. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para tamu undangan dari relasi perusahaan.
**
LPP Ariyanti menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kemandirian peserta didik. Program tersebut meliputi Pendidikan dan Pelatihan Program Satu Tahun Siap Kerja dengan jurusan Administrasi Perkantoran, Komputer Akuntansi, Perhotelan, Tata Boga, serta Tours and Travel. Selain itu, tersedia pula Program Kewanitaan yang mencakup Tata Kecantikan Rambut (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Kecantikan Kulit (jenjang 2, 3, dan 4), Tata Rias Pengantin, serta Tata Busana tingkat Basic dan Advance.
![]() |
| Astiwi Triwidiya Putri, Wisudawan Terbaik LPP Ariyanti 2026 (Foto Asep GP |
LPP Ariyanti juga mengembangkan program pelatihan berbasis kluster kompetensi seperti Food and Beverage Service, Baker, Cookery, dan Patisserie, disertai Program Pelatihan Produktivitas Tenaga Kerja, Program Pelatihan Kewirausahaan, serta Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan dunia industri dan organisasi, diselenggarakan pula pelatihan in house training yang meliputi Service Excellence, Leadership, Pengembangan Kepribadian, Etika dan Citra Diri Positif, MC Protokoler, Public Speaking, Komunikasi, serta Grooming, termasuk program keterampilan intensif dan privat yang berfokus pada penguatan hard skills dan soft skills.
Pada Tahun Akademik 2024/2025, tercatat sebanyak 1.641 peserta berhasil menuntaskan pendidikan dan pelatihan, dengan peserta wisuda pada hari ini berasal dari Program Satu Tahun Siap Kerja dan Program Kewanitaan. Kualitas alumni Ariyanti tak perlu dipertanyakan lagi, dengan jumlah lulusan LPP Ariyanti yang lebih dari 95.000 orang yang tersebar di berbagai perusahaan besar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Mereka diterima di dunia kerja di antaranya sebagai Sekretaris Direksi, General Manager, Executive Chef, Hotel Manager, Cinema Manager, Senior Airport Service Agent, Pastry Coordinator, Personalia, dan masih banyak posisi lainnya. Dunia usaha dan industri yang menerima alumni Ariyanti antara lain PT KAI, UPI, ITB, RSHS, The Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, Mercure Setiabudhi Bandung Hotel, The Trans Luxury Hotel Bandung, Holiday Inn Hotel Batam, Arion Swiss-Belhotel Bandung, PT Graha Layar Prima (CGV Cinemas) Bandung, Bank BRI, Bank BCA, sedangkan di luar negeri antara lain di Intercontinental Hotel Dubai UEA, International Hotel Dubai, The Monarch Hotel Dubai, Hotel Rehab Al Misk Madinah Arab Saudi, Raffles Hotel Singapura, COSL Drilling Pan Pacific–Singapore, dan kapal pesiar seperti Holland America Line (HAL), Carnival, Thomson Dream, MSC Cruises, serta masih banyak lagi di dalam dan luar negeri.
Lulusan LPP Ariyanti juga diberikan wawasan entrepreneurship, diharapkan alumni LPP Ariyanti tidak hanya mampu bersaing mencari kerja tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, minimal untuk diri sendiri dan lingkungannya. Ada beberapa alumni Ariyanti yang sukses berwirausaha seperti membuka salon, butik, pastry bakery, dan lain sebagainya. Sebagai contoh pemilik Roemah Snack Mekarsari, pemilik Narda Catering, pemilik Klinik Kecantikan G&G Skin Care, House of Raddysa Salon, Spa, Butik & Wedding Gallery Cimahi, Van’s Salon Wedding Gallery & Spa, Anis Salon, Charoline Salon, Uki Salon, serta masih banyak lagi salon-salon di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. (Asep GP)***
Wisuda Ke-43 dan Pelepasan Calon Tenaga Kerja LPP Ariyanti Bandung : Lulusannya Dibekali Pendidikan Sesuai Kebutuhan Zaman
Acara berlangsung di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung, Jalan Peta No. 241, Kota Bandung, (7/1/2026). Menghadapi era ...
Sunday, December 28, 2025
![]() |
| Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. (Foto: Asep GP) |
Bandung — Akhir tahun selalu menjadi momen penting untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, sekaligus menata harapan ke depan. Dalam semangat itulah Jala Bhumi Kultura (JBK) bersama DC Corner menghadirkan sebuah perhelatan seni bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025 + Harapan Tahun 2026”. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu sore, (27/12/2025), di DC Corner, Jl. Ranggamalela No. 11, Dago, Kota Bandung.
Kata panitia, acara ini dirancang sebagai ruang temu antara seni, pengalaman hidup, dan kesadaran sosial. Bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan sebuah upaya menghadirkan seni sebagai medium refleksi kolektif atas berbagai peristiwa yang mewarnai perjalanan tahun 2025—baik pada level personal, sosial, maupun kultural—serta sebagai penanda harapan dan sikap kritis menyongsong tahun 2026.
Melalui tema refleksi akhir tahun, para penggagas acara ingin mengajak publik untuk kembali memberi makna pada waktu, ingatan, dan pengalaman. Seni dipilih sebagai bahasa utama karena ia memiliki daya ungkap yang jujur, lentur, dan mampu menembus batas-batas rasionalitas. Dalam konteks ini, panggung menjadi ruang dialog, sementara tubuh, suara, dan gerak menjadi medium penyampai pesan.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
Beragam bentuk seni pertunjukan dihadirkan dalam acara ini. Herman HMT usai memimpin doa, membuka ruang perenungan melalui sajian puisi-puisinya, menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial. Suara individu yang sekaligus merepresentasikan kegelisahan dan harapan banyak orang di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat. Hermana dalam kesempatan tersebut membacakan puisi karyanya, Senandung Sunyi 1, Senandung Sunyi 2, dan Petaka. Pimpinan Longser Bandoengmooi ini pun berkolaborasi sepanggung dengan Risma yang melantunkan lagu Aneuk Yatim (karya: Rafly Kande) tentang musibah Tsunami Aceh.
![]() |
| Rektor ISBI, Retno Dwimarwati: Sebagai manusia kita harus taat pada Tuhan, menghormati sesama manusia dan alam, agar terhindar dari segala bencana. (Foto: Asep GP) |
Ada lagi, seni pantomim dibawakan oleh ISMIME & Jos Dumber-Dumbers, yang mengekspresikan realitas kehidupan melalui bahasa tubuh tanpa kata. Dengan gestur, mimik, dan simbol-simbol visual, serta diringi musik jaipong Sunda, pantomim ini ingin menyampaikan kritik sosial secara lugas namun tetap puitis, mengajak penonton membaca ulang berbagai fenomena yang sering luput dari perhatian.
Sementara itu, Aendra Medita menyampaikan orasi media, yang merefleksikan peran media dan media sosial di Indonesia sepanjang tahun 2025. Orasi ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi, perubahan pola konsumsi media, serta tantangan etika dan literasi digital. Melalui sudut pandang kritis, orasi ini mengajak audiens untuk lebih sadar, bijak, dan bertanggung jawab dalam memaknai informasi di era digital.
Selain itu, dipertunjukkan juga sajian Tari 50+ yang dibawakan oleh Enung, Lina, Indri, dan Risma. Pertunjukan ini menjadi pernyataan bahwa seni tidak mengenal batas usia. Pengalaman hidup, ketekunan, dan kedewasaan justru menjadi kekuatan utama dalam menafsirkan gerak. Tari 50+ tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga pesan tentang keberlanjutan, ketahanan, dan keberanian untuk tetap berkarya di setiap fase kehidupan.
Di sela-sela sajian seni, tampil juga ke depan beberapa orang tokoh aktivis dan akademisi, di antaranya Paskah Irianto dan Rektor ISBI Retno Dwimarwati.
Paskah Irianto mengajak berpikir keras mencari solusi agar bangsa ini jadi maju tidak dimiskinkan. Bagaimana supaya bangsa Indonesia sejahtera ekonominya dan rakyatnya maju. Aktivis hukum dan kasus tanah ini pun menyoroti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang harus ditata ulang, agar anak bangsa mendapat gizi yang benar serta MBG tidak jadi arena korupsi dan pemborosan anggaran. Selain itu, alumni Sastra Rusia Unpad ini juga menyoroti bencana alam Sumatera yang menurutnya dibuat oleh ulah manusia. Dan Paskah mengingatkan, “Di dunia ini tidak ada yang gratis, kalau berbuat baik kita dibayar Tuhan dengan kebaikan begitu juga sebaliknya, kalau berbuat jahat dan lalim dibayar dengan keburukan,” tegasnya.
Retno pun sama menyoroti bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini di Pulau Sumatera. Jadi menurutnya, Refleksi 2025 ini merupakan cara berpikir ulang bagi kita bahwa dengan adanya bencana ini, kita harus lebih mencintai alam. Bagaimana kita sebagai manusia taat kepada Tuhan dan menghormati sesama manusia, juga menghormati alam itu jadi penting, karena bagaimanapun apa yang diberikan Tuhan melalui alam ini adalah sebuah berkah.
Tapi ketika kita tidak memelihara alam dengan baik akhirnya menjadikan bencana. Jadi sebenarnya menurut Retno, bencana ini bukan dari Tuhan tapi kesalahan manusia. Hal inilah yang harus dijadikan resolusi di 2026 untuk kita berpikir kembali mencintai alam, “Karena leluhur kita selalu menganggap bahwa alam adalah manifestasi dari Tuhan, jadi perwujudan Tuhan itu ada di alam. Jadi kita harus benar-benar menghormati alam, dan kebudayaan Sunda mengajarkan bahwa kita harus mencintai alam, karena manusia, alam, dan Tuhan itu tidak terpisahkan,” tandasnya.
![]() |
| Paskah Irianto, Bagaimana caranya agar negara maju dan rakyat tidak dimiskinkan (Foto: Asep GP) |
“Jadi ketika kita melihat alam itu adalah bagian dari kita, semua makhluk itu adalah bagian dari kita, kita harus berusaha saling menghormati dan menghargai antara manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, semuanya harus satu kesatuan,” pungkasnya.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
Untuk itulah Bu Rektor dalam program Pengabdian kepada Masyarakatnya, getol menggali potensi yang ada di masyarakat kemudian memberikan solusi, termasuk dalam menjaga lingkungan alam. Di antaranya mencoba menanam 10 ribu mangrove di Cibalong - Garut Selatan, juga 15 ribu cemara laut dan ketapang serta pohon damar yang dikerjakan Pramuka di satu kecamatan itu pada tahun 2021.
![]() |
| (Foto: Asep GP) |
Secara keseluruhan, rangkaian sajian ini dihadirkan sebagai mozaik refleksi: tentang manusia, masyarakat, media, tubuh, dan waktu. Setiap penampil membawa perspektifnya masing-masing, namun bertemu dalam satu semangat yang sama—menjadikan seni sebagai ruang berpikir, merasakan, dan berbagi makna.
Acara ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan budaya yang inklusif, lintas generasi, dan berakar pada kesadaran sosial. DC Corner dipilih sebagai lokasi karena komitmennya sebagai ruang alternatif bagi dialog kreatif dan ekspresi seni di Bandung.
“Dengan menghadirkan seni sebagai cermin dan penanda zaman, acara ini diharapkan menjadi penutup tahun yang bermakna sekaligus pembuka langkah menuju tahun 2026 dengan kesadaran, empati, dan optimisme baru,” demikian disampaikan panitia kepada wartawan. (Asep GP)***
Jala Bumi Kultura & DC Corner Gelar “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”: Seni sebagai Ruang Ingatan, Kritik, dan Optimisme
Hermana HMT membacakan beberapa puisinya didampingi Risma dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025 & Harapan 2026”, di DC Corner Dago, Bandung. ...
Thursday, December 25, 2025
Penanganan masalah sampah di perkotaan, termasuk Bandung, sangat rumit dan memerlukan solusi sistemik dari hulu ke hilir, melibatkan pemerintah serta partisipasi aktif masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan mengurangi timbunan sampah dari sumbernya.
Makanya, Pemkot Bandung terus berusaha mencari solusi agar sampah di Kota Bandung tidak menumpuk dan menimbulkan bau busuk, menjadi bibit penyakit, serta merusak keindahan kota, bahkan sebaliknya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Dan usaha itu memang tidak mengkhianati hasil. Upaya penanganan sampah di Kota Bandung mulai menunjukkan hasil tatkala Pemkot Bandung menggandeng CV Prosignal Karya Lestari untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos ramah lingkungan. Hasilnya tidak main-main, per harinya paling sedikit 14 ton pupuk kompos bisa diproduksi serta berpeluang bernilai ekonomi.
Dan hal itu terbukti ketika CV Prosignal Karya Lestari mengantarkan 2 ton pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik untuk Diskominfo Kota Bandung dan ke Rumah Dinas Wali Kota Bandung (Pendopo Kota Bandung), Selasa (23/12/2026).
"Alhamdulillah, dengan adanya kerja sama antara Pemkot Bandung (Dinas Lingkungan Hidup) dengan pengelola Pasar Gedebage dan Prosignal Karya Lestari, pengolahan sampah organik di Pasar Induk Gedebage sudah sangat baik dan akan optimal karena dalam sehari bisa mengolah 27 ton sampah," demikian kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Kata Farhan, pupuk kompos ini akan segera dimanfaatkan untuk tanaman hias dan program urban farming Buruan SAE. Maka ia pun memerintahkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Pertamanan Kota Bandung (DPKP) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung (DKPP) untuk segera memanfaatkannya.
Selain itu, Farhan juga berencana memasukkan pupuk kompos ini menjadi salah satu mata rantai ekonomi sirkular dalam program pengolahan sampah skala Rukun Warga.
"Kita akan menggabungkan tiga program yang sudah berjalan, yaitu pengolahan sampah di RW, urban farming level RW, dan operasi dapur sehat di level RW. Kompos akan digunakan oleh urban farming, sayur, buah, ikan, hasil dari urban farming akan dikonsumsi dapur sehat, maka jadinya sirkular," katanya.
Sementara itu, Direktur Utama CV Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, berharap dinas-dinas lain yang membutuhkan pupuk kompos hasil pengolahan sampah organik menggunakan biodigester ini dapat mengambilnya secara gratis di Pasar Induk Gedebage, Bandung.
Sebagaimana kita ketahui, biodigester merupakan solusi pengolahan limbah yang ramah lingkungan sekaligus dapat menghasilkan energi alternatif yang bersih, yaitu dengan cara mengolah sampah menggunakan tangki atau wadah kedap udara, tempat organisme menguraikan bahan organik atau sampah dapur, kotoran hewan, limbah pertanian, dan sejenisnya tanpa oksigen, yang nantinya menghasilkan biogas serta pupuk organik cair atau padat.
Saat ini, kata Aldi, CV Prosignal tengah memanen pupuk kompos hasil olahannya, hingga mencapai 2.000 ton yang menumpuk di gudangnya.
"Kami dalam sehari bisa memproduksi pupuk kompos minimal 14 ton dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, perkebunan, penghijauan, ataupun untuk memperbaiki unsur hara tanah. Sayangnya, sejauh ini baru sedikit dimanfaatkan oleh petani dari Ciwidey," pungkasnya. (Rls/ Asep GP.)*** Tatarjabar.com December 25, 2025 CB Blogger Indonesia
Pemkot Bandung Gandeng CV Prosignal Karya Lestari Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos
Ket. Foto: Wali Kota Bandung, M. Farhan (berbaju putih), bersama Direktur Utama Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah (berbaju hitam), d...
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)









%20beserta%20jajaran%20pengurus%20PPSI%20DPW%20Jabar%20Periode%202025%E2%80%932030%20siap%20memajukan%20pencak%20silat%20Jawa%20Barat%20(Foto%20Asep%20GP).jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)








.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)











