Home
» Jawa Barat
» Fadli Zon Panen Padi Budidaya Digjaya 35 Ton/Hektar/Tahun Bersama Pokja Agraria Gerpis
Friday, October 11, 2024
![]() |
Fadli Zon (Pakai Caping - Baju Coklat) Bersama Andri Kantaprawira (Iket Hijau) Juga Kang Aher (Bercaping - Baju Hitam), Turun Ke Sawah Memanen Padi (Asep GP) |
Panen padi Budidaya seluas kurang lebih 7 Ha dilahan seluas 13,5 Ha yang ditanami dua jenis varietas hasil Riset Balai Benih Sukamandi yaitu Varietas Digdaya (7 Ha) dan Varietas Ciherang Sub-1 (setara dengan Nutrient Zinc anti stunting seluas 3 Ha) ini berlangsung di Ciherang, Kabupaten Bandung (9/10/2024) .
Selain dihadiri Dr. Fadli Zon Ketua DPN HKTI, hadir juga Dr. Ahmad Heryawan, Lc, M.Si (Anggota DPR RI Dapil II Kabupaten Bandung) bersama istri Dr. Netty Prasetyani, Diyan Anggraeni Sugiarto (Direktur Utama PT. Thara Jaya Niaga), Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin (Pembina Gerakan Pilihan Sunda/Presiden Tani Indonesia), Drs. Mahpudi Sukirman, MT (Direktur IKAPI Jawa Barat), Rd. Holil Aksan Umarzein (Wakil Ketua IPHI/Pembina Gerpis), Ketua Gerakan Pilihan Sunda Andri P. Kantaprawira, S.IP, MM, dan banyak lagi.
![]() |
Mencoba Alat Potong Padi Buatan Sendiri (Asep GP) |
Kata Andri hal ini membuktikan bahwa undangan Gerakan Pilihan Sunda dan PT. Thara Jaya Niaga mendapat sambutan positif dari banyak pemangku kepentingan untuk melihat di lapangan apakah benar bahwa teknik Budidaya Digjaya ini dapat dengan segera dalam 1-3 tahun kedepan membangun Ketahanan Pangan Negeri, karena hasil produksinya merupakan nilai lompatan dari 11-12 Ton/Ha/Tahun menjadi 35 Ton/Tahun, artinya bila mengandalkan luasan sawah di Jawa Barat 922.000 Ha dan luasan panen 1,66 juta Ha/tahun maka importasi 3,5 juta padi dari luar negeri dapat ditangani dengan menggunakan lahan sawah yang ada.
![]() |
Haji Endang Sulaeman Ketusla Pokja Agraria Gerpis (Topi Putih) Sedang Menerangkan Teknik Salibu Kepada Fadli Zon Dan Kang Aher (Asep GP) |
Titik ungkil yang ditawarkan adalah meningkatkan produktivitas pertanian baik dari hasil per hektar maupun meningkatkan Indeks Pertanaman menjadi bisa 4x satu Tahun, sehingga kalkulasi konservatif hasil Budidaya Digjaya adalah 35 Ton/Ha/Tahun, melebihi rata-rata nasional 11-12 Ton/Ha/Tahun ataupun maksimal hasil di Mekong Country 14-16 Ton/Ha/Tahun. Budidaya Digjaya melakukan teknik tabela omol (tanam benih langsung benih banyak) yang berbeda dengan teknik tanam pindah (tandur) serta selanjutnya berdasarkan pengetahuan lokal karuhun dilanjutkan dengan teknik menir/salibu sehingga indeks pertanaman bisa mencapai 4x/tahun. Teknik Budidaya Digjaya ini merupakan bauran dari pengetahuan lokal dan pengetahuan akademik dari seorang petani senior yang menjadi Ketua Pokja Agraria Gerakan Pilihan Sunda H. Endang Sulaeman.
![]() |
(Asep GP) |
Tentu saja hal ini mendapat sambutan baik dari Ketua DPN HKTI, Fadli Zon, dia memuji para petani dan tokoh petani di Ciherang Pak Endang (Pa HES), yang telah membuat satu inovasi dengan teknik Salibu.
“Ini dengan teknik Salibu, bisa memanen sampai 4 kali sungguh inovasi yang luar biasa Pak Haji Endang ini, bahkan hasilnya bisa mencapai 35 ton pertahun dengan sekali tanam benih langsung (tabela), kemudian dipotong dengan mesin potong hasil inovasi sendiri ditambah beberapa teknik lainnya denga treatmen ekosistem. Saya kira teknik-teknik semacam ini sangat perlu karena target pemerintahan baru yang akan datang, di bawah kepemimpinan Pak Prabowo memang sangat peduli pada sektor pertanian. Karena beliau (Prabowo) juga pernah menjadi ketua Umum BPN HKTI selama 2 periode, saya hanya melanjutkan dan sampai sekarang beliau jadi Pembina HKTI,“ kata Fadli Zon.
![]() |
Fadli Zon, yang Penting Petani Harus Sejahtera (Asep GP) |
Ia juga mengatakan dalam hal pangan, bukan hanya ketahanan tapi swasembada yang utama. Bagaimana bisa mencapai kembali swasembada pangan yang dulu pernah kita capai. Menurut Fadli Zon, Ini memang tak mudah, tantangan berat, karena swasembada pangan ini membutuhkan kerja keras dari semua pihak, terutama yang paling terpenting petaninya harus untung dan HKTI mendorong harga gabah kering panen itu harus menguntungkan petani, termasuk belakangan ini mendorong agar HPP (Harga Pokok Produksi) terutama harga gabah kering panen, naik dengan layak. Petani ini harus untung palingg tidak 30%.
![]() |
Holil Aksan Memotong Tumpeng, Sebagai Ungkapan Rasa Syukur (Asep GP) |
“Nah baru kemudian ada insentif, karena Petani ini bukan hanya sekedar profesi, tapi satu tugas mulya memberi makan 280 juta rakyat Indonesia sehari 3 kali makan, dan juga perlu bergizi. Ini saya kira sesuai degan program makan siang bergizi terutama untuk anak-anak, kebutuhan pangan memang sangat penting. Jadi inovasi-inovasi dengan teknik Salibu ini bisa kita kembangkan lagi sambil terus disempurnakan dan ini satu contoh dan tonggak yang penting. Semoga panen kita ini bisa benar-benar maksimal,“ pungkasnya.
![]() |
(Asep GP) |
Harapan Petani Sejahtera juga menjadi harapan Ahmad Heryawan. Kesejehateraan petani meningkat itu yang paling penting.Karena itu ke depan sebagai bangsa kita harus membangun ketahanan dan kadaulatan pangan sekaligus. Jadi oleh karena itulah selain produktivitas pangan (yang sangat tergantung pada varietas bibit unggul, pupuk, irigasi, dan para penyuluh), bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan para petani. Kalau ternyata jadi petani dirasa sejahtera tentu para pemuda pun akan berbondong-bondong jadi petani.
![]() |
(Asep GP) |
“Saya punya usulan mungkin padi ini selain dihargai dengan harga ekonomi, harus dihargai juga dengan harga kehidupan. Kalau dipakai harga ekonomi ada kekhawatiran rugi (berpikir untung-rugi), dan petani bisa beralih ke holtikultura atau bahkan dialihkan ke industri. Ke depan kehidupan masyarakat kita harus sehat, kita harus berdaulat pangan. Maka selain harga ekonomi juga harus ada harga kehidupan. Nah kehidupan itu tadi ada beragam cara, bagaimana caranya supaya petani tetap betah jadi petani, bahkan ke depan ada anak-anak muda jadi petani, karena petani selain memiliki produksi harga ekonomi juga harga kehidupan. Jadi yang penting petani bisa nyaman dan sejahtera,“ demikian kata Kang Aher. (Asep GP)***
Fadli Zon Panen Padi Budidaya Digjaya 35 Ton/Hektar/Tahun Bersama Pokja Agraria Gerpis
Posted by
Tatarjabar.com on Friday, October 11, 2024
![]() |
Fadli Zon (Pakai Caping - Baju Coklat) Bersama Andri Kantaprawira (Iket Hijau) Juga Kang Aher (Bercaping - Baju Hitam), Turun Ke Sawah Memanen Padi (Asep GP) |
Panen padi Budidaya seluas kurang lebih 7 Ha dilahan seluas 13,5 Ha yang ditanami dua jenis varietas hasil Riset Balai Benih Sukamandi yaitu Varietas Digdaya (7 Ha) dan Varietas Ciherang Sub-1 (setara dengan Nutrient Zinc anti stunting seluas 3 Ha) ini berlangsung di Ciherang, Kabupaten Bandung (9/10/2024) .
Selain dihadiri Dr. Fadli Zon Ketua DPN HKTI, hadir juga Dr. Ahmad Heryawan, Lc, M.Si (Anggota DPR RI Dapil II Kabupaten Bandung) bersama istri Dr. Netty Prasetyani, Diyan Anggraeni Sugiarto (Direktur Utama PT. Thara Jaya Niaga), Mayjen TNI (Purn) Tatang Zaenudin (Pembina Gerakan Pilihan Sunda/Presiden Tani Indonesia), Drs. Mahpudi Sukirman, MT (Direktur IKAPI Jawa Barat), Rd. Holil Aksan Umarzein (Wakil Ketua IPHI/Pembina Gerpis), Ketua Gerakan Pilihan Sunda Andri P. Kantaprawira, S.IP, MM, dan banyak lagi.
![]() |
Mencoba Alat Potong Padi Buatan Sendiri (Asep GP) |
Kata Andri hal ini membuktikan bahwa undangan Gerakan Pilihan Sunda dan PT. Thara Jaya Niaga mendapat sambutan positif dari banyak pemangku kepentingan untuk melihat di lapangan apakah benar bahwa teknik Budidaya Digjaya ini dapat dengan segera dalam 1-3 tahun kedepan membangun Ketahanan Pangan Negeri, karena hasil produksinya merupakan nilai lompatan dari 11-12 Ton/Ha/Tahun menjadi 35 Ton/Tahun, artinya bila mengandalkan luasan sawah di Jawa Barat 922.000 Ha dan luasan panen 1,66 juta Ha/tahun maka importasi 3,5 juta padi dari luar negeri dapat ditangani dengan menggunakan lahan sawah yang ada.
![]() |
Haji Endang Sulaeman Ketusla Pokja Agraria Gerpis (Topi Putih) Sedang Menerangkan Teknik Salibu Kepada Fadli Zon Dan Kang Aher (Asep GP) |
Titik ungkil yang ditawarkan adalah meningkatkan produktivitas pertanian baik dari hasil per hektar maupun meningkatkan Indeks Pertanaman menjadi bisa 4x satu Tahun, sehingga kalkulasi konservatif hasil Budidaya Digjaya adalah 35 Ton/Ha/Tahun, melebihi rata-rata nasional 11-12 Ton/Ha/Tahun ataupun maksimal hasil di Mekong Country 14-16 Ton/Ha/Tahun. Budidaya Digjaya melakukan teknik tabela omol (tanam benih langsung benih banyak) yang berbeda dengan teknik tanam pindah (tandur) serta selanjutnya berdasarkan pengetahuan lokal karuhun dilanjutkan dengan teknik menir/salibu sehingga indeks pertanaman bisa mencapai 4x/tahun. Teknik Budidaya Digjaya ini merupakan bauran dari pengetahuan lokal dan pengetahuan akademik dari seorang petani senior yang menjadi Ketua Pokja Agraria Gerakan Pilihan Sunda H. Endang Sulaeman.
![]() |
(Asep GP) |
Tentu saja hal ini mendapat sambutan baik dari Ketua DPN HKTI, Fadli Zon, dia memuji para petani dan tokoh petani di Ciherang Pak Endang (Pa HES), yang telah membuat satu inovasi dengan teknik Salibu.
“Ini dengan teknik Salibu, bisa memanen sampai 4 kali sungguh inovasi yang luar biasa Pak Haji Endang ini, bahkan hasilnya bisa mencapai 35 ton pertahun dengan sekali tanam benih langsung (tabela), kemudian dipotong dengan mesin potong hasil inovasi sendiri ditambah beberapa teknik lainnya denga treatmen ekosistem. Saya kira teknik-teknik semacam ini sangat perlu karena target pemerintahan baru yang akan datang, di bawah kepemimpinan Pak Prabowo memang sangat peduli pada sektor pertanian. Karena beliau (Prabowo) juga pernah menjadi ketua Umum BPN HKTI selama 2 periode, saya hanya melanjutkan dan sampai sekarang beliau jadi Pembina HKTI,“ kata Fadli Zon.
![]() |
Fadli Zon, yang Penting Petani Harus Sejahtera (Asep GP) |
Ia juga mengatakan dalam hal pangan, bukan hanya ketahanan tapi swasembada yang utama. Bagaimana bisa mencapai kembali swasembada pangan yang dulu pernah kita capai. Menurut Fadli Zon, Ini memang tak mudah, tantangan berat, karena swasembada pangan ini membutuhkan kerja keras dari semua pihak, terutama yang paling terpenting petaninya harus untung dan HKTI mendorong harga gabah kering panen itu harus menguntungkan petani, termasuk belakangan ini mendorong agar HPP (Harga Pokok Produksi) terutama harga gabah kering panen, naik dengan layak. Petani ini harus untung palingg tidak 30%.
![]() |
Holil Aksan Memotong Tumpeng, Sebagai Ungkapan Rasa Syukur (Asep GP) |
“Nah baru kemudian ada insentif, karena Petani ini bukan hanya sekedar profesi, tapi satu tugas mulya memberi makan 280 juta rakyat Indonesia sehari 3 kali makan, dan juga perlu bergizi. Ini saya kira sesuai degan program makan siang bergizi terutama untuk anak-anak, kebutuhan pangan memang sangat penting. Jadi inovasi-inovasi dengan teknik Salibu ini bisa kita kembangkan lagi sambil terus disempurnakan dan ini satu contoh dan tonggak yang penting. Semoga panen kita ini bisa benar-benar maksimal,“ pungkasnya.
![]() |
(Asep GP) |
Harapan Petani Sejahtera juga menjadi harapan Ahmad Heryawan. Kesejehateraan petani meningkat itu yang paling penting.Karena itu ke depan sebagai bangsa kita harus membangun ketahanan dan kadaulatan pangan sekaligus. Jadi oleh karena itulah selain produktivitas pangan (yang sangat tergantung pada varietas bibit unggul, pupuk, irigasi, dan para penyuluh), bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan para petani. Kalau ternyata jadi petani dirasa sejahtera tentu para pemuda pun akan berbondong-bondong jadi petani.
![]() |
(Asep GP) |
“Saya punya usulan mungkin padi ini selain dihargai dengan harga ekonomi, harus dihargai juga dengan harga kehidupan. Kalau dipakai harga ekonomi ada kekhawatiran rugi (berpikir untung-rugi), dan petani bisa beralih ke holtikultura atau bahkan dialihkan ke industri. Ke depan kehidupan masyarakat kita harus sehat, kita harus berdaulat pangan. Maka selain harga ekonomi juga harus ada harga kehidupan. Nah kehidupan itu tadi ada beragam cara, bagaimana caranya supaya petani tetap betah jadi petani, bahkan ke depan ada anak-anak muda jadi petani, karena petani selain memiliki produksi harga ekonomi juga harga kehidupan. Jadi yang penting petani bisa nyaman dan sejahtera,“ demikian kata Kang Aher. (Asep GP)***
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

No comments :
Post a Comment